Saya mulai menyukai marketing, ketika belajar pemasaran pertanian dari Prof. Dwidjono Hadi Darwanto dan pak Indra Bastian, PhD. Kedua dosen saya itulah yang mengenalkan saya cara berfikir pemasaran. Ia selalu mengatakan bahwa berbeda antara menjual (selling) dengan pemasaran (marketing). Lalu apa sih bedanya antara berfikir menjual dengan berfikir marketing?

Menjelaskannya kira-kira begini. Orang yang berfikir menjual, ketika memulai proses politiknya pertanyaan yang harus dijawabnya adalah “apa yang akan dilakukan?” atau kira-kira apa yang mau dijual? Kerja keraskah, pengabdian, keturunan, agama, atau issue yang lebih seksi.

Sehingga kita bisa melihat betapa banyaknya kandidat walikota, bupati atau pun gubernur yang kalah. Bukan karena ia bodoh. Tapi tidak merencanakan dengan baik kemenangannya. Sehingga tidak jarang, kita menemukan visi seorang calon pemimpin politik hanya sekedar daftar keinginan yang ingin dilakukan. pada akhirnya tidak memiliki relefansi dengan basis pemilih.

Sementara orang yang berfikir marketing politik. mereka akan melakukan riset pasar tentang costumers expectation. Seorang yang berfikir marketing dalam aksi politiknya akan bertanya apa harapan pemilih terhadap masa depan daerahnya atau pemimpin politiknya? Dari hasil riset itulah tim campaign akan menyusun atau merumuskan rencana pemasaran politik bagi kandidat yang akan ditarungkan dalam sebuah kontestasi politik. Wallahu a’lam.

Iklan