Prabowo boleh kalah di konvensi partai golkar 2004 yang lalu. Ia kalah oleh seniornya di TNI, Wiranto. Ia pun kandas tak memperoleh kendaraan politik untuk ikut berkontestasi di pemilu dimana Susilo Bambang Yudhoyono menjadi pemanang. Tapi ia tak seperti tokoh politik lainnya. Ia positif saja. Bergerak melalui berbagai sayap organisasi tani, HKTI dan berbagai media lainnya. Ia mengembangkan bisnisnya dibidang energi, kehutanan dan pertanian.

Kini ia tampil kembali. Tapi bukan lagi partai Golkar. Ia hadir dengan Partai Gerakan Indonesia Raya (GERINDRA). Partai baru yang kemudian lolos verifikasi oleh KPU. Sebagai pembelajar marketing, saya melihat dari berbagai iklan di TV, salah satu iklan yang menarik adalah iklan-iklan yang diproduksi oleh tim campaign Prabowo. Ia begitu fasih dan langsung menyentuh pada episentrum kebutuhan masyarakat Indonesia. Di tengah “longgarnya semangat nasionalisme” ia menghadirkan konstruksi nasionalisme lewat pesan untuk memakai produk petani dalam negeri.

Kontan saja ini disambut dengan baik oleh calon konstituen. Dalam beberapa survei dan perjalanan saya kebeberapa daerah, baik di Jawa atau pun di Sulawesi. Coba kita lihat misalnya, tuturan seorang warga, “Mas, Gerindra partai bagus, Jelas membela wong tani”, “Prabowo itu siapa mas, mantap sekali iklannya, membela kebutuhan petani”.

Dalam cara berfikir marketing, persoalan paling penting adalah bagaimana mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan pasar. Saat ini masyarakat Indonesia menghendaki pemimpin yang jelas memimiliki keberpihakan pada persoalan hidupnya, menjadi inspirasi dan mampu mengambil keputusan-keputusan secara cerdas dan timing.

Prabowo hadir memberikan tawaran yang dibutuhkan oleh masyarakat. Terutama masyarakat tani yang menghuni 70% bangsa Indonesia. Iklannya menyentuh kebutuhan yang pas. Jika saja dilakukan pemilihan presiden atau legislatif disaat-saat ini, mungkin suaranya akan signifikan.

Iklan