Semua orang terdecak kagum atas pencapaian ekonomi China saat ini. Pencapaian secara ekonomi tentu akan berhubungan dengan posisi politik China dalam ranah global. Karena itu, China kini sangat diperhitungkan oleh kekuatan ekonomi politik global dengan cadangan devisa lebih dari 2 triliun dollar.

Apa sesungguhnya dibalik kemajuan ekonomi China? Salah satu teori penting yang bisa menjelaskan fenomena tersebut ialah teorinya Max Weber tentang hubungan kemajuan dengan etika agama (protestan). Sebab kalau dirujuk ke aspek ideologi sangat tidak mungkin karena China berhaluan ekonomi komunis yang sangat sentralistik.

Dalam alam ketertutupan selama berpuluh-puluh tahun, kondisi China sangat mengkhawatirkan. Korupsi merupakan santapan berita sehari-hari bagi masyarakat China. Kemiskinan meluber semeluber masyarakatnya yang banyak itu. Tapi China kini sudah lain, walau masih ada korupsi, tapi yang menarik kita bisa membaca bagaimana pelaku korupsi dihukum gantung atau di hukum mati. Chini kini menjadi eksportir terbesar ketiga didunia meninggalkan negara-negara Eropa, seperti Jerman.

Kalau di Eropa dan Amerika maju dengan etika protestannya, Japan dengan restorasi meiji, maka demikian halnya dengan China melalui spritualitas konfusianisme. Ada titik persamaan antara etika protestan, restorasi meiji, dan konfusianisme yaitu kerja keras, hemat, dan yang paling penting ialah mereka mau membuka diri dengan dunia luar.

Adalah Deng Xiaoping yang membuka jalan bagi reformasi ekonomi China yang kita kenal dengan Ekonomi Pasar Sosialis. Deng berbeda dengan pendahulunya yang sangat memuja politik, maka ia mengedepankan ekonomi. Bagi Deng, komunisme bukanlah kemelaratan dan ia benar ia mengantar China ke gerbang ekonominya yang dahsyat saat ini.

Reformasi ekonomi China yang diprakarsai oleh Deng tahun 1978 merupakan refleksi dari keinginan membuka diri pada jalur perdagangan global dan memainkan peran yang lebih baik. Reformasi institusi ekonomi meliputi keuangan, perdagangan dan investasi. Perlahan namun pasti ekonomi China bergerak termasuk dengan membuka zona khusus (Special Economic Zones) untuk investasi dan perdagangan.

Keterbukaan yang digagas oleh China bukan berarti negera itu penganut kapitalisme. Ia tetap sebagai sosialisme. Ini ditunjukkan dalam sistem pemerintahannya yang masih terpimpin. Ekonomi China memang “terbuka”, tetapi memiliki karakter. Karakter itu antara lain perlindungan terhadap produk-produk nasionalnya dengan sistem zonasi. China sangat ketat melindungi produk-produknya. Hal ini dapat dicermati dari penerapan pajak produk-produk impor bagi masyarakat China yang cukup tinggi.

Kini setelah reformasi ekonomi China berjalan 32 tahun, kita menyaksikan pencapaian-pencapaian yang fantastis. Spiritualitas China dan kemauan membuka diri telah mengantarnya menjadi kekuatan ekonomi dunia yang diperhitungkan oleh negara-negara industri seperti USA dan Jepan.

Apa yang dicapai China saat ini patut dijadikan bahan renungan bagi republik. Tapi bukan berarti mengkopi paste kebijikan itu, ada sisi-sisi yang bisa diadopsi, tapi juga ada yang mengharuskan kita mempertahankan sesuatu yang baik dari tradisi ke-Indonesiaan kita.

Kita masih harus kerja keras tiga kali lebih dari cara kerja penduduk negara maju jika kita ingin mengambil bagian (peran) pada ranah global.

Iklan