Bertempat di Aula Perpustakaan Nasional R.I., Jakarta, 09 Februari 2010 dideklarasikan Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI). Lembaga ini diinisiasi oleh sejumlah ekonomi “haluan lain”. Saya menyebut haluan lain karena mereka secara paradigmatik berbeda dengan ekonom-ekonom mainstream.

Perbedaan paradigma keilmuan ekonomi itu tidak bisa dipisahkan dari filsafat ilmu yang mendasari dan menjadi fondasi berfikir diantara ilmuan tersebut. Paling tidak ada kelompok besar paradigma ekonomi; yaitu kapitalisme – neoliberalisme dan sosialisme dengan segala variannya.

AEPI didirikan oleh 11 orang ekonom dan akademisi progressive dari berbagai kampus di Indonesia, seperti Syamsul Hadi (UI), Deliarnov (UNRI), M. Yunus (Unhas), Hendri Saparini (Econit), Rustiati (UKSW), Ahmad Daryoko (SP PLN), Ichsanuddin Noersy (UGM), Fahmi Radhi (Mubyarto Institute), Ignatius Wibowo (UI), Ridwan Rangkuti (USU), dan Hendri Saragih (La Via Campesina).

Dalam maklumat pembentukannya, visi lembaga ini ingin menjadi komunitas cendekiawan yang memperjuangkan nilai-nilai dan tujuan-tujuan keadilan dalam struktur ekonomi politik dengan mengacu kepada cita-cita proklamasi dan amanat konstitusi 1945.

Saya berharap hadirnya lembaga ini memperkaya diskusi-diskusi ekonomi. Paling tidak menjadi suara lain, disamping ISEI. Dengan begitu publik memiliki pilihan-pilihan untuk menilai, mana diantara pandangan-pandangan ekonomi yang lebih baik bagi masa depan republik.

Deklarasi ini menjadi titik balik bagi konsolidasi ilmuan-ilmuan ekonomi politik untuk menjawab keraguan banyak kalangan perihal padangan lain dalam menata ekonomi. Ya semacam sebuah perlawanan intelektual atas dominasi pandangan yang selama ini mempengaruhi cara berfikir, merasa, dan bertingkah masyarakat.

Saya fikir sudah terlalu lama kita berkutat dengan cedera bawaan “haluan ekonomi” kita. Saatnya menghadirkan suatu perspektif baru menata republik dengan haluan ekonomi baru. Yaitu ekonomi “jalan lain”.

Iklan