Rabu siang usai sholat dzuhur, akhir Januari, saya melangkah menuju shalter trans jogja siang itu. Jogja baru saja di guyur hujan. Tapi suasananya cukup terik. Memang akhir-akhir ini cuaca kadang tidak menentu. Ini ada kaitannya dengan global warming yang melanda belahan dunia.

Suasana terminal Giwangan, Yogya cukup ramai. “Surabaya … Surabaya …, Semarang … Semarang …”. Teriak kernek bus. “Tidak pak” jawabku. Saya biasanya malas dengan tawaran-tawaran seperti itu. “Ya mungkin saja mereka calo” pikirku dalam hati. Saya amat trauma dengan pengalaman disuatu waktu di Surabaya.

Biasanya saya langsung menuju kearah utara terminal. Biasanya bus “Eka” parkir disana. Setiap kali saya ke Surabaya, saya senantiasa menggunakan bus itu. Disamping lebih save, juga lebih nyaman dengan AC-nya, harganya juga relatif terjangkau, Rp. 62.000. Kalau pun terpaksa ya, saya naik bus “Sumber Kencana”. Itu pilihan paling akhir. Kebetulan juga lagi ada uang.

Perjalanan ke Surabaya biasanya singgah di Sola dan Ngawi. Di Solo, bus berhenti di terminal antara 15 – 30 menit untuk menurunkan atau menunggu penumpan. Sementar di Ngawi bus ini singgah untuk memberi kesempatan penunpan makan, buang air atau sholat.

***

“Saya sudah di Surabaya, berapa ongkos patas ke Malang. Jemput saya di Arjosari, ya”? begitu bunyi SMS yang saya kirimkan ke seorang teman di Malang dengan sedikit memaksa. “Rp. 15.000, ok, SMS saja kalau sudah sampai” balasnya. Malam itu kira-kira pukul 10.00 Wib saya sudah di terminal Bungurasih, Sidoarjo.

Saya berganti mobil tujuan Malang. Sambil duduk mengambil nafas, saya memandang ke arah para karnek mobil yang berteriak-teriak.  Setelah merasa cukup, saya pun melangkah menuju kerumunan orang-orang itu. “Malang mas”? kata seorang, menawariku. Saya tak tahu apa ia seorang karnek atau calo, entahlah! “Langsung berangkat gak pak” balasku. “Nunggu mas, mobilnya masih kosong” balasnya. Saya langsung saja naik ke bus itu. Sambil duduk menunggu saya membeli roti dari seorang pedagang kaki lima yang menawariku.

Tak berapa lama penumpan sudah mengambil posisi dengan menempati kursi sesuka mereka. Ada yang duduk di depan, dekat pak sopir, ada yang di tengah. Saya memilih duduk agak di belakang. Dibelakang saya hanya tersisa sebaris kursi dan pintu naik turun penumpan. Tidak lama kemudian bus pun berangkat menuju kota Malang.

Perjalanan ke Malang dari Surabaya di tempuh kurang lebih 120 menit.  Ketika sang karnek bus meminta ongkos, saya langsung membayarnya dengan uang pas Rp. 15.000 lalu ia menyobek sebuah karcis untuk diberika kepada saya.

Bus menyusuri jalan mewah berhotmix sehingga tanpa terasa, bus akan segera keluar dari Surabaya. Itulah jalan tol yang mengantarku dengan setia meninggalkan kota pahlan malam itu. Kanan dan kiri jalanan ku perhatikan. Semuanya nampak sepi. Senyap. Seolah baru saja ada yang berduka.  Hanya suara deru mesin mobil yang terdengar sahut menyahut sepanjang jalan.

Tiba-tiba mataku terhempas pada sebuah rumah. Dan tak jauh dari rumah itu ada kerumunan orang-orang di pinggir jalan. Ternyata sebuah pasar kecil. Dan rumah-rumah itu nampaknya tak berpenghuni. Sementara di sisi kanan dan kirinya diluberi Lumpur. Itulah sisi miris yang dihadapi orang-orang porong. Mereka menanggung derita dari tangan-tangan kapitalis yang rakus dengan dunia. Mereka adalah tumbal dari perburuan rente. Sangat menyesakkan. Tak kuasa saya membayangkan bagaimana hidup dalam keterpurukan, tanpa rumah untuk berteduh. Tanpa kejelasan, dan parahnya mereka dibiarkan saja oleh penguasa despotik yang tak punya mata hati. Tak punya nurani. “Urus saja moral mu” demikian sindir Iwan Fals dalam syairnya.

***

Sekitar pukul 23.00 Wib, bus memasuki wilayah Malang. Dari dalam bus senerai hujan terlihat jelas. Suasana ini jelas membuat dingin ditambah dengan air condition mobil yang di onkan sejak dari Surabaya. Beruntunglah, saya membawa jaket yang bisa menghangatkan tubuhku.

Bip … Bip … “Tunggu 15 menit lagi kak Mul, tunggu di pinggir jalan” begitu bunyi SMS yang masuk ke ponselku. Saya bergegas ke pinggir jalan mencari tempat berteduh, rintik hujan mengguyur terus. Saya berdiri dibawah gerbang pintu masuk terminal. Sekitar 10 menit saya berdiri dibawah gerbang. Saya pun bergerak ke arah SPBU yang tak jauh dari gerbang.  Dari jauh saya melihat cahaya lampu motor bergerak mendekat. Ia nampak mencari-cari seseorang. Mata saya tidak terlalu jelas menangkap obyek tersebut. Tapi saya perhatikan rambut, kaca mata, dan giginya. Ia menyalakan klakson motornya. Benar, ini yang saya tunggu. Ia Ahmad “Prujung” Husain.

Ia melajukan motor memboncengku menyusuri jalan ke arah Tlogo Mas. Rintik hujan yang dari tadi belum reda menusuk-nusuk persis dimukaku. Ia yang memboncengku lumayan basah. Beruntung jaket yang ia pakai tidak tembus air. Sementara di kiri dan kanan jalan terdapat banyak rumah toko. Persis disebuah warung motornya dihentikan. Disitu nampak dua kumpulan orang. Yang satu kelompok saya tidak mengenalnya sama sekali. Sementara yang dua orang yang satu diantaranya saya kenal betul.

“Jam berapa berangkat dari Jogja kak”? Tanyanya. “Oh iya tadi siang, sekitar pukul 14.00” jelasku. “Makan dulu kak” sarannya. “Ok, saya sebenarnya dah makan tadi di Ngawi, tapi memang dah agak terasa ni perut” ujarku mengamini tawarannya. Saya lalu memesan makanan. “Mie rebus telur dan teh panas pak” teriakku. Tidak berapa lama pemilik warung pun dating membawa mangkuk dengan mie rebus dan teh panas. “Monggo mas” ujar bapak pemilik warung mempersilakanku. “Matur nuwun” jawabku dengan bahasa Jawa seadanya.

“Acara apa ke Malang kak” tanyanya membuka pembicaraan. “Jalan-jalan saja, ya liburan” jawabku. “Oh, saya kira ada agenda lain” timpalnya.

Obrolan kami tidak berlangsung lama. Pemilik warung akan tutup. Saya segera membayar. “Berapa pak” tanyaku. “Rp. 5.000” jawab pemilik warung. Kami pun meninggalkan warung boncengan tiga orang. Motor menuju ke arah kota dan masuk ke sebuah gang. Jalannya berkelok-kelok. Disamping kanan dan kiri berjajal rumah-rumah kontrakan mahasiswa. “Ini pusat kost-kostan mahasiswa UMM” katanya menjelaskan. Tidak berapa lama, kami sampai di sebuah kost-kostan yang relatif besar. Didepannya tertulis “IMM komisariat Aufklarung”. Saya dipersilakan masuk rumah. Sambil tuan rumah menyiapkan kamar saya duduk sambil nonton TV sembari ngobrol dengan teman yang satunya. Tak berapa lama ia dating. “Istirahat dulu kak” ujarnya mempersilakanku. “Anak-anak pada liburan, ada juga yang KKN jadi sepi” jelasnya. Saya diarahkan ke kamar yang tengah. Saya lalu istirahat karena cukup letih seharian naik mobil dari Jogja.

Iklan