Masih segar dalam ingatan kita semua, ketika Amerika Serikat mengagresi Irak tahun 2002/2003 lalu hadir isu Severe Acute Respiratory Sindrome (SARS). Isu ini secara langsung melahirkan ketegangan negara-negara di Asia Pasifik. Tapi seperti juga kehadirannya yang tak permisi. Ia (isu itu) pun tidak permisi pergi entah kemana. Hilang di telan zaman. Tak bertahan lama seperti isu flu burung yang meluluh lantakkan peternakan domestik (Indonesia).

Isu SARS berhasil dengan baik di komunikasikan sebagai isu-isu kesehatan dan keamanan bagi negara-negara di Asia Pasifik. Lahir ketegangan antar negara; seperti Thailand dan Taiwan; demikian juga China mengalami gejolak politik bahkan menimbulkan perseteruan-perseteruan baik dalam dan luar negeri. Di dalam negeri, pemerintah China mengalami tantangan terhadap legitimasi politiknya karena dianggap tidak memberikan informasi yang terbuka mengenai wabah penyakit SARS yang berjangkit di wilayahnya (Alexandra, 2003). Sementara di luar, tarulah misalnya di Toronto, Kanada karena adanya anggapan bahwa banyak etnis Cina tersebut merupakan carrier virus SARS karena mereka sering bepergian ke wilayah-wilayah yang dijangkiti penyakit SARS.

Secara ekonomi, China amat susah dipengaruhi atau didikte, sehingga lewat cara-cara seperti itulah penguasa internasional menanamkan pengaruhnya ke Asia Pasifik, tentu yang penen adalah koorporasi farmasi internasional. Lewat isu itu bisa memproduksi obat-obatan untuk mengobati SARS. Siapa sich yang menguasai pasar farmasi Internasional?

Pada penghujung 1970-an, 20 besar perusahaan besar farmasi hanya menghasilkan 5 persen penjualan obat global. Menyusul gelombang besar-besaran marger, 20 besar itu mengontrol lebih dari 75 persen pada tahun 2002. 10 besar perusahaan saja sudah mengontrol 57 persen daro $352 miliar pasar obat global (lihat top Pharmaceutical firms).

Dalam kasus flu burung, modus yang hampir sama juga dipakai untuk (1) menyerang perusahaan-perusahaan peternakan domestik, dan (2) memainkan menopoli faksin lewat kekuatan-kekuatan loby jaringan ini. Secara opini publik, masyarakat di kooptasi dengan berbagai penggiringan opini yang sangat menyesatkan. Jadilah kita (Indonesia) budak bagi tuan-tuan besar yang menyediakan dana besar untuk menghalau apa yang disebut dengan flu burung yang tak pernah jelas itu. Kekuatan loby mereka membuat pemerintah menyediakan apa pun yang dimaui oleh sang tuan. Yang terpukul ialah peternak domestik. Indonesia tetap buntung, dan yang meraup untung tetap koorporasi Internasional lewat lembaga-lembaga Internasional itu.

Menurut laporan GRAIN, bahwa flu burung telah digunakan untuk meningkatkan kepentingan korporasi yang berkuasa, menempatkan kehidupan dan kesehatan jutaan orang dalam bahaya. Saat ini, lebih dari sebelumnya, agribisnis menggunakan bencana untuk mengkonsolidasi rantai makanan peternakan-ke-pabrik-ke-supermarket sebagai kompetisi skala kecilnya merupakan kejahatan, sedangkan perusahaan- perusahaan farmasi menambang misi yang diinvestasikan dalam data dasar global dari sampel-sampel flu untuk memperoleh keuntungan dari pasar-pasar vaksin yang putus asa dan menawan. Dua badan PBB – FAO dan WHO – tetap merupakan inti dari laporan ini, menggunakan ketinggian status,dan akses internasional mereka kepada pemerintah, dan mengendalikan aliran dana donor untuk keuntungan agenda korporasi (http://www.grain.org/m/?id=117).

Ada orang-orang yang menyadari bekerjanya jaringan ini. Tapi ia tak berdaya melawan negaranya sendiri yang berkomplot dengan jaringan loby tingkat tinggi ini. Seorang perempuan anak bangsa, dokter lulusan gadjah mada, kampus desa itu. Ia tak boleh lagi jadi menteri. Ia terlalu kritis mungkin. Sudahlah, anda jadi penasehat saja yang tak punya kebijakan apa-apa.

Setelah diributkan dengan isu flu burung, kini hadir isu penting lain yang disponsori oleh donator AS berdarah Yahudi, Michael Rubens Bloomberg. Tidak tanggung-tanggung ia menggelontorkan dana hibah total USD4,2 juta (Rp39 miliar) untuk mendukung kampanye antirokok lewat bendera Bloomberg Initiative (BI).

Lalu agenda setting apa yang ada dibalik penggelontoran dana besar itu? Riset Wanda Hamilton (2002) berjudul Big Drug’s Nicotine War. Hamilton menyebut “Koneksi yang tidak terbantahkan antara propaganda anti merokok dengan industri farmasi.” Jika seluruh skenario berjalan lancar uang sebesar itu tidak ada artinya. Pengorbanan itu akan BEP (kembali modal) dalam perhitungan yang tidak lama.

Masih menurut Hamilton, propaganda anti rokok merupakan bagian dari marketing industri farmasi. Targetnya jelas orang berhenti merokok. Dan untuk berhenti merokok diperlukan terapi dan obat-obat yang dapat membantu atau alternatif lain yang disebut “smoking cessation and treatment services,” produk industri farmasi, seperti: nicorette, nicotinell, zyban (anti smoking pill), nicotine replacement therapy (NRT) gum and patch, glaxosmithkline, nicorette orange gum, clear nicoderm patch (http://lhasamahameru.wordpress.com/2010/04/25/mega-proyek-antirokok/).

Jadi bukan apa-apa, dibalik semua pertarungan yang kasat mata itu, ada kepentingan yang bersifat bisnis (ekonomi) didalamnya. Kepentingan perdagangan obat-obat Nicotine Replacement Therapy (NRT). Pada titik ini sesungguhnya kaum agamawan dan kita semua harus peka terhadap setiap gejala yang hadir kepermukaan. Karena dibalik gejala itu, ada struktur yang bermain (koorporasi global).

Iklan