Apa makna kebangkitan Nasional buat saya dan anda? Pertanyaan tersebut terlontar lagi hari ini. Tepat tanggal 20 Mei. Tapi saya masih termangu, kebingunan, dan dijejali pertanyaan menyelisik, kapan kebangkitan itu muncul? Kenapa ia bisa lahir, tumbuh, dan mewujud menjadi tindakan dan praksis sebuah perlawanan?

Kalau boleh menengok jauh kebelakang, persis 1908. Saya ingin bilang betul kita pernah bangkit. Persis ketika kesadaran kolonial tumbuh di alam pikiran massa rakyat. Kesadaran bahwa posisi kita sebagai manusia sama. Kesadaran tentang makna kemerdekaan dan kebebasan. Kesadaran tentang persatuan nasional. Kesadaran tentang kemandirian. Kesadaran yang kemudian melahirkan Budi Utomo dan Sumpah Pemuda yang pada puncaknya mengantarkan bangsa ini ke gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

Kini sudah seratus tahun telah berlalu. Tapi alam pikiran dan tindakan kita masih terjajah. Kita belum bisa berdikari. Belum bisa mengangkat kepala sama tegak. Kita masih dalam telikung penjajahan oleh globalisasi koorporasi yang hegemonik. Oleh kekuatan negara superpower yang dominan. Kita belum berkuasa atas kekayaan sumberdaya alam sendiri. Pendeknya, hari ini kita belum merdeka.

Kenapa kita belum bisa merdeka? Saya ingin mengatakan: pertama, mentalitas kita masih mentalitas terjajah. Mentalitas terjajah itu dicirikan oleh masih kuatnya budaya feodalisme dan aristokrasi. Feodalisme ialah suatu sistem peternalistik kebangsawanan. Ada bangsawan ada orang kecil. Ada negara dunia pertama ada negara dunia ketiga. Feodalisme tidak melihat orang dari segi kapabilitas dan kompetensinya, tetapi dari segi asal-usul dan “derajat kebangsawananya”. Dari sisi materialnya, apakah berduit atau tidak. Itulah feodalisme yang menjadi ancaman kebangkitan nasional hari ini. Mochtar Lubis (1977) dengan manis menuliskan dalam bukunya ”Manusia Indonesia: Sebuah Pertanggungjawaban” bahwa manusia Indonesia itu dicirikan antara lain munafik, enggan bertanggungjawab, berjiwa feodal, percaya takhyul, berwatak lemas, boros, pemalas, tukang menggerutu, pencemburu, sok dan tukang tiru.

Kedua, aristokrasi. Suatu ciri yang paling menonjol pada akhir abad ke XIX ini adalah munculnya elit baru yang lahir dari rahim penjajah. Kaum ini disebut ‘priyayi baru’, berfungsi sebagai kaki tangan Belanda yang menancapkan kuku kekuasaan di seluruh negeri. Seperti juga di penghujung abad ini pemimpin nasional kita masih dalam bayang-bayang negara adikuasa. Tampil seperti sosok demokrat sejati, santun, dan gagah. Tapi nyatanya adalah boneka. Boneka atas kaki tangan kapitalisme. Boneka atas kekuatan korporasi global. Dan tentu boneka atas negara dunia pertama.

Bila memang demikian problematikanya. Saya fikir Soekarno benar. Ketika menyampaikan pembelaanya dihadapan sidang pengadilan atas dirinya di Bandung. Proklamator itu mengatakan perlunya manusia Indonesia baru. Tapi seperti apa manusia Indonesia baru itu? Inilah tugas kita semua. Membangun karakter bangsa yang sakit ini. Pramoedya Ananta Tour mengatakan kita perlu karakter pemberani dan nalar kritis. Semantara Dawam Rahardjo menyebut pentingnya orang Indonesia memiliki karakter kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab.

Kebangkitan Nasional hanya mungkin diwujudkan lewat kerja politik sepanjang hayat. Seperti Tan Malaka dalam Naar de Republiek bahwa kebangkitan Indonesia Raya bukan sekedar hidup dalam angan-angan akan tetapi dikerjakan secara politik. Karena itu, menurut Tan, ”Kemerdekaan rakyat hanya bisa diperoleh dengan pendidikan kerakyatan”. Jadi kata kunci kebangkitan ialah pendidikan rakyat. Harapannya tumbuhnya karakter, sikap, dan kesadaran. Kesadaran tentang kebangkitan. Kesadaran tentang Indonesia yang Berketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Semoga.

Iklan