Beberapa hari yang lalu (04/01), Kompas mengangkat liputan dengan topik yang menurutku sangat bagus yaitu, “Hasil Penelitian Perguruan Tinggu Sulit Diaplikasikan“. Saya kira kalau rak-rak itu dibuka, ada ratusan atau bahkan ribuan hasil-hasil penelitian dari berbagai perguruan tinggi yang tidak bisa diaplikasikan alias nganggur blas bin mubazir.

Perguruan tinggi yang sejatinya memiliki akar di masyarakat, justru semakin banal bergerak ke ranah lain, yaitu capital accumulation. Akibatnya, perguruan tinggi tercerabut dari akar sosialnya, yaitu masyarakat dengan segenap kompleksitasnya.

Saya kira kecemerlangan Poulo Freire dengan pendidikan kaum tertindasnya adalah contoh, betapa pengetahuan dan teknologi itu harus berangkat dari persoalan ril kemasyarakatan. Sehingga sebuah pengetahuan memiliki makna karena hadir dan berkembang dalam suatu konteks. Sebab suatu ilmu secara filsafati mestilah memenuhi unsur aksiologi, yaitu teori tentang nilai. Nilai yang berkaitan dengan kegunaan pengetahuan yang diperoleh.

Menurut Jujun S. Sumantri dalam Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, tanggung jawab sosial ilmuwan meliputi antara lain kepekaan terhadap masalah-masalah sosial di masyarakat, imperatif, memberikan perspektif yang benar terhadap sesuatu hal untung dan ruginya, baik dan buruknya; sehingga penyelesaian yang objektif dapat dimungkinkan, bertindak persuasif dan argumentatif (berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya), meramalkan apa yang akan terjadi ke depan, menemukan alternatif dari objek permasalahan yang sedang menjadi pusat perhatian, memberitahukan kekeliruan cara berfikir, menegakkan/menjunjung tinggi nilai kebenaran (universal) melalui kegiatan intelektual dan memberi contoh.

Hasil-hasil riset tersebut bukan tidak berguna. Hanya saja yang jadi persoalan ialah hasil-hasil riset itu dipergunakan untuk kepentingan apa? Dominan, riset dengan biaya yang mahal dan menghasilkan teknologi tingkat tinggi peruntukannya jelas, yaitu melayani kepentingan corporate, karena kampus terbelit dengan masalah pembiayaan. Dan yang punya dana untuk pembiayaan riset, ya corporate. Itu logika sederhana yang mungkin bisa kita tangkap dari fenomena ini.

Hal lain yang saya kira penting dalam konteks ini ialah adanya keterkaitan antara tri darma perguruan tinggi ini yaitu; pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Ketiga elemen itu harus secara simultan dilakukan. Malah Dr. H.S. Dillon menyarankan agar pengabdian masyarakat itu yang di awalkan, baru menyusul penelitian, dan pengajaran.

Pengabdian masyarakat bermakna bahwa civitas kampus dapat melihat dari jarak dekat bagaimana dinamika masyarakat dan apa yang bisa dikontribusikan oleh civitas akademik. Sedangkan penelitian haruslah berakar pada dinamika sosial dimana suatu kampus eksis. Dan pada tahap akhir, yaitu bagaimana melakukan pendidikan berbasis pada realitas yang hidup dan historis itu. Jadi ada ketersambungan antara realitas dengan dunia akademik yang dipelajari seorang mahasiswa, peneliti, dan dosen.

Suatu hal yang sangat ironis dan menunjukkan dengan toples kehadapan publik ialah penghapusan KKN sebagai bagian dari pengabdian masyarakat. Hal itu menjadi penanda betapa wajah kapital begitu merasuk dalam jiwa perguruan tinggi saat ini. Wa Allahu A’lam.

Iklan