Setelah merampungkan presentasi saya di Kepatihan, Gubernuran DIY, siang itu (Rabu, 13/06) saya bergegas pamit kepada Bapak/Ibu di bagian perekonomian untuk siap-siap berangkat ke Samarinda melalui Balikpapan.

Sejak berkenalan dengan gagasan-gagasan Mansour Faqih di tahun 2000-an melalui bukunya pendidikan popular, kehidupanku banyak dipengaruhi oleh cara pandang dan gagasan-gagasan di buku itu. Saya lalu tercebur dalam dunia training, riset dan sejumlah aktivitas fasilitasi partisipatif. Kedatangan saya ke Samarinda pun dalam konteks pelatihan.

Pesawat Batavia Air sesaat setelah mendarat di Bandara Sepinggan, Balikpapan, Kaltim

Ini perjalanan untuk pertama kali saya ke Kalimantan. Berangkat dari Jogja sekitar pukul 16.45 WIB dan sampai di Balikpapan sekitar pukul 20.00 WITA. Perjalanan di tempuh satu jam dengan tiga puluh menit dengan maskapai Batavia Air.

Sebelum berangkat, saya mengkonfirmasi panitia kiranya saya dicarikan mobil untuk perjalanan Balikpapan – Samarinda. Kira-kira pukul 20.00 WITA, pesawat mendarat di Bandara Sepinggan, Balikpapan. Saya mencari-cari travel yang dimaksud oleh panitia. Karena tidak menemukan di terminal kedatangan, akhirnya saya bertanya ke seorang petugas polisi. Ia lalu menunjukkan arah. Sampai di counter kangaroo, saya mengenalkan diri dan menanyakan mobil yang akan berangkat ke Samarinda malam itu.

Saya Mulyadi” ujarka memulai percakapan. “Oh iya, gimana pak” jawab petugas. “Saya yang tadi pesan travel untuk ke Samarinda“? jelasku ke penjaga counter. “Mobilnya sudah berangkat pak, pas pukul 08.30 Wita tadi” jelas penjaga itu. “Jadi gimana pak, apa ada travel lain yang bisa saya tumpangi” bertanya. “Kalau jam segini sudah tidak ada, alternatifnya naik taxi, Rp 250.000” jawabnya. “Aduh mahal sekali” keluhku dalam hati. Aktivis separti saya tidak kuatlah dengan harga segitu.

Dengan agak jengkel, saya melangkah meninggalkan counter itu. Saya berjalan menuju terminal kedatangan. Kebetulan tadi ada yang menawari saya dengan tumpangan avanza yang lebih murah. Syaratnya memang harus menunggu sampai penunmpang cukup 5 orang.

Terminal kedatangan bandara Sepinggan cukup kecil jika membandingkannya dengan Soekarno-Hatta, Juanda atau Sultan Hasanuddin. Di depan terminal, nampak banyak orang yang sedang menunggu. Ada juga para broker bus yang menawarkan jasa angkutan ke beberapa kota di sekitar Balikpapan.

Salah satu sudut jalan di Kota Samarinda

Akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan jasa angkut avanza, memang harus menunggu sampai penumpang cukup 5 orang. Dari kelimanya, 4 diantaranya baru pertama kali ke Samarinda. Penumpang ditarif Rp 75.000. Perjalanan Balikpapan-Samarinda ditempuh 2 jam dengan kondisi jalan yang tentu tidak sama dengan di pulau Jawa. Ditambah lagi pak sopir yang membawa kami ke Samarinda uring-uringan karena hanya dikasi Rp 40.000 oleh agen penumpang.

Sampai di Samarinda saya dijemput oleh panitia, kami janjian di lampu merah simpang empat air putih. Karena belum makan malam, saya minta untuk diantar cari warung. Karena malam itu juga akan ada bola, kami cari tempat makan yang bisa nonton sekaligus. Karena sudah larut, tidak ada lagi penjual makanan. Ya tidak apalah malam ini harus makan spageti dan kopi.Karena pagi itu akan memfasilitasi training, saya akhirnya tidak menyelesaikan pertandingan antara Belanda – Jerman. Kira-kira pukul 02.00 dinihari saya istirahat.

Saat memfasilitasi sesi “Gerakan Sosial” di gesthouse Unmul, Samarinda, Kaltim

Setelah sholat subuh saya menyempatkan diri mengelilingi penginapan pagi itu. Melihat dari dekat seorang ibu yang sedang menyiapkan jajanan di warungnya. Tempat menginap kami persis di kaki sebuah bukit. Entahlah, saya belum sempat menanyakan nama bukit itu. Setelah merasa cukup, saya lalu kembali ke penginapan dan mandi. Pukul 07.25 saya berangkat dari penginapan menuju kampus Universitas Mulawarman, tempat pelatihan berlangsung.

Selanjutnya bisa dilihat link dibawah:

Catatan perjalanan ke Borneo 2

Catatan perjalanan ke Borneo 3

Tulisan sebelumnya:

1) Pemberdayaan Petani: Menegaskan Definisi, Menata Kelembagaan

2) Konsultan: Inilah Jalanku

Iklan