Setelah rapat persiapan training bagi pemimpin gerakan Islam yang di support oleh TIFA, siang itu, Kamis, (19/07) saya langsung pulang ke Notoprajan. Ketika rapat usai, aku langsung pamit. Aku ingin ke pantai. Sore ini pasti akan ada para pencari hilal. He…he… “Kepantai yuk lihat Hilal” begitu smsku kepada beberapa kawan. “hayuk” jawab seorang kawan. “ga ah” jawab kawan lainnya.

Aku pacu sepeda motor grand 1990-an ke arah barat dari jalan gedung kuning. Sampai di Notoprajan kira-kira pukul 15 lebih kurang 45 menit. Aku sudah sholat di gedung kuning tadi sebelum jalan.

“Ayo berangkat …” ajakku kepada kawan yang tadi mengiyakan smsku. “Bentar dulu mas, masih nulis berita ini” jawabnya. “Coba kontak mas Amir, tadi soalnya dia ngajak ke parang tritis” jelas kawan lainnya di ruangan itu. Sejenak dia mencari nomor ponsel mas yang dimaksud. Aku lalu menelponnya. Menanyakan posisinya.

“Hallo mas, Mul ini. Dimana sekarang” tanyaku.

“Sudah di jalan ini” jawabnya terdengar dari seberang telepon.

“Tempat rukyatnya dimanae mas, kalau jadi aku mau kesana” tanyaku menelisik.

“Di makam syech Bela-belu, dari gerbang lurus ke pantai, kiri jalan” jawabnya menerangkan.

Waktu terus saja bergerak. Aku menoleh jam merk fossil di lengan kananku. Sudah pukul 16 lebih. Sejenak aku membatin. Menghitung waktu tempuh untuk ke perang tritis. “Kalau jam segini, tidak sampai waktunya ke lokasi merukyat”. batinku dalam hati. Sementara waktu untuk mengamati hilal amat sangat terbatas. Ketika matahari terbenam. Padahal moment itu yang ditunggu. Walau pun dalam berbagai referensi disebutkan mustahil melihat hilal, 2 derajat atau dibawah itu.

Akhirnya tidak jadi ke pantai nich. Sebenarnya disamping mengamati hilal (rukyat), aku pikir lanskap pantai disaat sore hari sangat menarik untuk diabadikan. Aku sering melihat suasana ini di kampungku, Selayar.

Sambil menunggu waktu magrib, kubuka situs media sosial. Aku ingin melihat bagaimana komentar-komentar publik di media sosial terkait perbedaan awal Ramadhan ini. Rupanya ramai sekali. Sesekali aku ikut nimbrung komentar. Salah satu komentraku misalnya begini “tahun ini ada moratorium puasa” sambil bercanda.

Aku sendiri akan ikut puasa besoknya, Jum’at (20/07). Jadi malam ini saya sudah ikut sholat tarawih. Bukan karena ingin berbeda atau membeda-bedakan diri (ekslusif) dari umat Islam lainnya. Yang pasti bahwa seluruhnya sepakat, puasa dimulai 01 Ramadhan. Tidak ada yang manyangkal bukan! Yang jadi soalkan kapan 01 ramadhan. Dan yang ibadah itu ya puasa dan amalan-amalannya. Bukan cara menentukan 01 ramadhannya. Bagiku, itu aspek teknis yang taaqquli. Ada dua memang yang dikenal dalam menentukan awal bulan qomariyah, yaitu hisab dan rukyat. Kedua pendekatan itu masing-masing punya hujjah. Aku tidak akan mengulasnya disini. Ada banyak artikel dan catatan soal itu. Silakan googling sendiri.

Sebelum Din Syamsuddin menyampaikan pandangannya di Metro TV petang itu yang menurutku agak keras terkait korupsi Al-Qur’an di Departemen Agama dan keta’atan terhadap ulil amri. Mungkin bang Din (demikian anak-anak muda Muhammadiyah biasa memanggilnya) terprovokasi juga. Ya, mudah-mudahan saja tidak. Beberapa tv swasta nasional sudah menyiarkan soal terjadinya perbedaan itu sehari sebelumnya. Bahkan mengundang beberapa narasumber seperti di Metro TV yang cukup berimbang dengan menghadirkan Ketua PB NU, KH Said Aqil Siraj dan Ketua Majelis Tarjih PP Muhammadiyah, Prof. Syamsul Anwar. Sementara di TV ONE, pagi itu menghadirkan KH Mustafa Ya’qub sendirian. Pengurus MUI itu nampak keras nada bicaranya. Termasuk wacana-wacananya nampak tidak demokratis. Diksi-diksinya cukup provokatif memancing perdebatan.

Malam itu aku mengawali sholat tarwih di Masjid Gede, Kauman. Sebenarnya aku sudah sering sholat baik waktu ramadhan atau pun di luar ramadhan di masjid keraton itu. Tapi baru kali ini saya sholat tarwih pertama di tempat itu.

Jama’ah yang hadir penuh merayap. Bahkan ada yang sholat disisi kanan masjid. Aku sholat di bagian tengah yang mirip pendopo itu. Biasanya di masjid lain, setelah sholat Isya’ sudah di mulai ceramah tarwih. Di masjid gede belum ceramah tarwih. Tetapi di isi oleh penyampaian ketua ta’mir masjid berkaitan dengan ramadhan dan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan selama sebulan itu.

Sholat tarwih dilakukan dengan pola 4-4-3. he..he.. saya jadi teringat sepak bola menyerangnya Barcelona. Artinya seriap 4 raka’at salam dan 3 rakat berikutnya adalah witir. Aku senang dengan pola ini, dibanding dengan pola 2-2-2-2-3. Apalagi dengan umpan-umpang (ayat-ayat) pendek satu dua, he..he.. Ini bukan soal yang terbaik. Pola apa pun baik termasuk yang 20 rakaat. Semua memiliki hujjah dan sumber yang bisa dipercaya. Kita sebagai pemeluk Islam bisa memilih sesuai dengan apa yang dianggap sesuai dan diyakini benar.

Saya ikut sholat tarwih tetapi tidak ikut witir. Nanti akan aku lanjutkan dirumah saja. Aku keluar dari ruang tengah masjid ke serambi dekat tempat wudhu sambil duduk menunggu teman yang masih witir. Di situ saya ketemu mas Arip … sambil menunggu aku bincang-bincang kecil dengan suara yang rendah. Takut mengganggu orang yang masih sholat.

Pulang sholat aku dan kawan makan malam di sop kepala ikan. “Sekali-kali makan enaklah” ujar kawan tadi. “Iyalah, apalagi besuk sudah puasa” ujarku menimpali.

Sebelum makan aku menelpon ibu di Selayar. Menanyakan kabar keluarga dan sebagainya. Aku menyampaikan kabarku bahwa diriku baik-baik saja di rantau. Ku pesan juga segelas juice sirsak. Pulang dari warung sop kepala ikan, aku nonton TV sambil membuka-buka buku. Sebelum tidur aku setel alaram pukul 03. Alhamdulillah saat alaram ponsel bunyi saya sudah bangun. Kira-kira pukul 03 dini hari. Saya melaksanakan witir 3 rakaat. Kemudian menyeduh kopi dan menikmati biskuit dan beberapa cemilan yang saya beli melamnya. “Aku ndak ikut makan sahur keluar ya” jelasku kepada si kawan ini.

Dan aku melewati malam pertama ramadhan itu dengan makan sahur biskuit dan cemilan. Di iringi oleh cappucino panas yang mantab.

Selamat menunaikan ibadah puasa.

Ramadhan karim.

Hormatku

DG SITURU’

Iklan