Warung dan Postconflict Actor’s


Saya hanya mengenal ia dengan komentar-komentarnya di berbagai media; TV atau surat kabar. Oleh media sering ia disebut pengamat terorisme. Lewat bukunya “Temanku Teroris?” ia banyak berbagi soal pengalamannya sekolah di Ngruki. Cerita tentang kehidupan pondok yang seringkali di framing oleh media sebagai “sarang teroris”. Ada banyak kisah-kisah menarik yang dicatat oleh Noor Huda Ismail lewat bukunya itu.

Dalam suatu workshop tentang police, conflict and religious freedom yang saya fasilitasi di Hotel Santika, Yogyakarta awal september yang lalu. Sambil makan siang, diskusi berlangsung santai. Mas Huda berbagi pengalaman bagaimana ia bekerja untuk mendampingi mantan-mantan kombatan. Atau yang dalam term ilmu sosial disebut dengan post conflict actor’s.

Ceritanya begini, Mas Huda dengan teman-teman eks bomber lewat Yayasan Prasasti Perdamaian mengembangkan sebuah warung di Semarang, Jawa Tengah. Kenapa warung (kuliner)? Salah satu persoalan yang dihadapi oleh eks combatan ketika lepas dari lembaga pemasyarakatan yaitu bagaiman berintegrasi kembali dengan masyarakat. Ketika mereka – eks combatan – tidak diterima dengan baik di publik, seringkali mereka akan terjerembab kembali main mercon (baca: ngebom). Nah disinilah sebenarnya aktor-aktor civil society mengambil perang strategis. Peran ini tidak bisa dikerjakan oleh state.

Lewat warung itulah beberapa mantan combatan berjualan. Di warung itu mereka bersosialisasi dengan banyak orang. Di kuliner ini, eks-eks combatan bisa bertemu bukan hanya dari kelompoknya, tetapi dari berbagai elemen. Lintas agama, lintas latar belakang, suku dan sebagainya. Ringkasnya dengan mengajak eks-eks combatan masuk di dunia kuliner mereka bisa bersosialisasi dengan banyak latar belakang. Interaksi yang demikian pada gilirannya akan menciptakan suasana batin dimana mantan-mantan combatan itu merasa diterima oleh masyarakat.

Saya kebetulan juga ketemu dengan eks combatan yang kini mengelola bisnis kuliner yang diajak oleh mas Huda ke workshop itu. Kulinernya berkembang cukup baik. Bahkan mereka sedang menjajagi kemungkinan membuka cabang di Yogyakarta. Di Semarang, menurut mas Huda seringkali acara/kegiatan di Polda Jateng memesan makanan ke warung yang dikelola oleh eks-eks kombatan itu.

Di sisi inilah sesungguhnya penguatan perlu dilakukan. Sebab menumpas teroris itu dengan cara-cara kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan baru. Dan kekerasan itu akan selalu direproduksi sedemikian rupa. Penangan dengan pendekatan membunuh pelaku sudah banyak di kritik publik. Di samping meniup bara, juga berpotensi melanggar hak asasi manusia (HAM). Oleh karena itu, badan nasional penanggulangan terror (BNPT) dan polisi sebagai aktor penting dalam security sectorperlu menggarap di hulu melalui deteksi dini lewat fungsi intelijen dan pemerkuatan polisi masyarakat sangat penting.

wa allahu a’lam

Tulisan terkait;

Polisi dan Konflik Berbasis Agama

Catatan perjalanan ke Padang (1) & (2)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s