Beberapa hari di Samarinda, Kalimantan Timur, akhirnya saya bisa jalan-jalan. Jalan-jalan pertama, pada hari jum’at. Yaitu sholat jum’at disalah satu masjid di kota itu. Saya dengan beberapa teman menyempatkan diri sholat jum’at di Islamic Centre. Masjid ini cukup megah (catatan Wikipedia menyebut termegah kedua setelah Istiqlal). Berdiri persis di tepi sungai Mahakam. Karena itu di Samarinda, sering disebut dengan tepian. Lokasi itu sekaligus membuat posisi masjid ini menjadi sangat strategis.

Masjid Islamic Center Samarinda (doc pribadi, 2012)

Karena waktu masih panjang, kami sempat mengambil gambar dibeberapa sudut masjid. Halamannya memang cukup luas. Arsitekturnya juga khas. Terdiri atas 7 menara. Sedangkan menara utama tingginya mencapai 99 meter. Dengan makna asmaul husna atau nama-nama Allah yang jumlahnya 99 itu.

Walau secara filosofi berbeda dengan masjid Al Markaz Al Islami, interiornya memiliki kemiripan. Terutama di bagian depan (mihrab). Setting lantai. Tapi dari segi kebersihannya, jujur, masjid ini jauh lebih baik dari Al-Markaz Al Islami. Apparatus masjidnya juga lebih humanis, ketimban Al Hariz-nya masjid Al Markaz. Tempat wudhunya tersebar banyak. Sehingga jama’ah tidak menumpuk dan tampak berdesakan. Mimbarnya sangat besar, di Al Markaz mimbarnya relatif simpel. Tulisan ini tidak bermaksud sama sekali membanding-bandingkan dalam pengertian yang lebih baik diantara keduanya. Saya mencoba mengkomparasikan keduanya saja. Pun saya pernah menjadi bagian dari Al-Markaz Al-Islami. Terakhir saya menjadi ketua departemen kader, Pemuda dan Remaja Masjid Al-Markaz Al-Islami 2002-2003.

Penulis di Depan Stadion Kutai Kartanegara (doc pribadi, 2012)

Perjalanan kedua, peserta training, panitia lokal dan fasilitator diajak main futsal di GOR Segiri (stadion Persisam) yang tidak jauh dari tempat pelatihan. Panitia menyewa 2 jam untuk main futsal. Kami bertanding, walau banyak teman-teman yang ke lapangan tapi tidak semuanya suka dengan olah raga ini. Bung Fahrul, beberapa teman dan saya ikut main. Sejak 2008 saya membiasakan olah raga. Ikut Ahmad Dahlan FC, seringkali memperkuat tim itu. Saya bermain di posisi gelandang kiri. Atau full bek kiri. Di Yogyakarta, setiap hari rabu saya rutin bermain di lapangan tugu futsal, timur kantor Samsat DIY.

Di temani bung Anca ziarah ke makam raja-raja Kutai Kartanegara (doc pribadi, 20120)

Performa fisikku juga mengalami perkembangan sejak rutin olah raga. Sehingga ketika main di Samarinda kemarin, dua jam saya tidak perlu minta diganti atau istirahat. Dulu waktu saya SMA, memang olah raga menjadi salah satu kegiatan rutinku. Di sekolahku, saya adalah tim volley ball. Posisiku adalah sebagai tosyer (pengumpan). Namun ketika kuliah, antara tahun 2000-2007 praktis tidak pernah lagi olah raga.

Soal fasilitas olah raga, Kaltim adalah provinsi dengan fasilitas olah raga terlengkap. Di kawasan GOR Segiri di samping berdiri stadion kebanggaan Persisam, juga beberapa area olah raga, dan hotel (wisma) atlet.

Penulis di Jembatan Kutai Kartanegara setelah ambruk (doc pribadi, 2012)

Perjalanan selanjutnya adalah ke perkampungan dayak di Desa Budaya Pampang. Ketempat itu ditempuh perjalanan naik motor kurang lebih 20 menit dari Kota Samarinda. Kami berangkat berempat; Saya, Hamzah Fanshuri (Anca), Ari Nurohman (Ari), dan Dedi Pratama (mantan Ketua PD IPM Kota Samarinda).

Medan jalannya lumayan berbelok-belok. Jalanannya seperti pada umumnya jalan di luar Jawa. Saya membonceng Anca, pak mantan Ketua IPM Samarinda boncengan dengan Ari. Saya menikmati pemandangan alam selama naik motor ke Pampang. Sayang sekali penebangan pohon dan penambangan material yang tidak bertanggungjawab dibiarkan tanpa ada kontrol yang memadai dari otoritas.

Penulis duduk di pendopo rumah adat Dayak (doc pribadi, 2012)

Perkampungan ini memang relatif jauh dari jalan poros. Ke tempat ini harus mengendarai sepeda motor atau sewa angkutan (mobil). Tidak ada angkutan khusus. Kami tiba siang hari. Motor lalu diparkir di sekitar sumah adat. Untuk membangun keakraban dengan ibu-ibu Dayak itu, kami singgah di warungnya. Kami pesan kopi dan si Ari pesan rokok. Sambil ngopi, si Ketua IPM Samarinda dan Ari ke pendopo rumah adat. Saya dan bro Anca menyuruput kopi buatan ibu Dayak itu. Sambil ngopi perbincangan dimulai. Lalu berceritalah ia tentang suku Dayak dan varian, dan berbagai kebudayaannya. Tentang tarian dayak. Tentang kebiasaan-kebiasaan. Tentang mata pencaharian dan sebagainya. Setelah cukup ngobrol. Saya pamit untuk ke rumah adat. Saya ingin melihat konstruksi rumah itu.

Seorang Ibu Dayak yang penulis ajak ngobrol (doc pribadi, 2012)

Di rumah adat ada beberapa tetua. Mereka menggunakan pakaian Dayak asli. Jika pengungjung mau menggunakan guide. Bisa melapor ke pengelola kalau tidak salah pak dusun. Jika anda ingin berfoto bersama tetua-tetua adat, dengan mengeluarkan uang – 80 ribu kalau tidak salah – anda bisa mengabadikan gambarmu dengan mereka. Lumayan kan!

Catatan perjalanan ke Borneo 1

Catatan perjalanan ke Borneo 2

Iklan