Langit Yogyakarta (baca: Joga) murung sore itu. Di wilayah utara pusat kesultanan Mataram Islam ini hujan. Sebagian lainnya nampak gelap. Sejak siang memang hawanya panas membahana. Tidak biasanya cuaca sepanas ini. Aku rencana ke Surabaya malam nanti lanjut ke Makassar siangnya. Sore itu aku mengantar kawan Moh. Mudzakkir ke stasiun kereta api. Sambil mengantar Jakir, aku sekalian mau beli tiket jurusan Jogja – Surabaya. Harganya Rp. 170.000 Karena berangkat buru-buru dapat tiket Surabaya – Makassar sekitar Rp 600.000 yang normalnya sekitar 300-400 ribu.

Sesi foto bareng dengan kawan-kawan seperjuangan (doc pribadi, 2013)
Sesi foto bareng dengan kawan-kawan seperjuangan (doc pribadi, 2013)

Berangkat dari Jogya sekitar pukul 11 malam dan sampai di Gubeng, Surabaya pukul 05.00. Ini perjalanan pertamaku naik kereta dari Jogja – Surabaya. Biasanya aku naik bus. Sampai di Surabaya aku dijemput Jakir yang sudah sejak semalam sampai di Surabaya. Ia memang naik kereta yang jam 4 sore. Mestinya akut ikut bersama dengan dia, tapi karena aku belum bayar tiket jadinya tidak bisa ikut.

Dari stasiun kami mampir ke warung langganannya. Kami makan soto pagi itu. Di sertai dengan teh panas. Setelah sarapan pagi itu kami bergegas ke kostnya Jakir yang tidak jauh dari Universitas Negeri Surabaya. Di kostnya kami istirahat sambil menunggu waktu pemberangkatan.

Siang itu jadwal penerbangan dari Surabaya sekitar pukul 12.00-an. Aku menghubungi Iccang untuk dijemput di Bandara, Sultan Hasanuddin. Sikitar pukul 13-an kurang lebih, Lion Air mendarat di Makassar. Aku segera menghubungi Iccang yang sudah menunggu diluar.

Kami lalu naik motor kea rah kota. Di jalan Urip Sumiharjo kami berhenti untuk makan siang. Aku sudah lapar. Kami lalu makan coto. Perjalanan dilanjutkan ke losari. Disana kami duduk menikmati sore sambil menunggu sholat magrib. Usai sholat, kami pulang ke Sudiang.

***

Asyik berdiskusi tentang dunia konsultan (doc pribadi, 2013)
Asyik berdiskusi tentang dunia konsultan (doc pribadi, 2013)

Besoknya kami janjian dengan kawan-kawan alumni IPM. Sejak di Jogja memang kami janjian ingin bertemu. Cili’ yang mempeloporinya. Janjiannya di Coffee Toffe. Lokasinya kira-kira 100 meter diutara kampus UMI. Janjinya sebenarnya pukul 15 sore itu, namun karena hujan sekitar pukul 17-an baru sampai. Cili’ dan kak Fate’ duluan sampai disana lalu kami (aku & Iccan) susul. Berikutnya ada kak Ayi’, Hadi, Eka, Rifqah dan Hikmah. Setelah magrib muncul juga Enal, lalu ada kak Ilo’ dan kak Ardi.

Kebiasannya gosipnya Enal belum juga sembuh (doc pribadi, 2013)
Kebiasannya gosipnya Enal belum juga sembuh (doc pribadi, 2013)

Suasana diskusi nampak ramai. Masing-masing membicarakan banyak hal. Memang agak jarang kami bertemu. Aku sendiri banyak di Jogja. Cili’ ikut suaminya ke Jakarta. Kak Ardy baru saja balik dari Japan. Yang lainnya di Makassar.

Salah satu yang kami bincang malam itu adalah kemungkinan bagaimana mendirikan sebuah lembaga konsultan. Tentu fokusnya bukan konsultan politik, karena ada banyak area yang bisa dikerjakan. Bukan hanya di bidang politik. Gagasan itu disambut baik oleh kak Ardy. Dia memang belatar belakang pendidikan PhD civil engineering. Bahkan sudah bicara sampai ke bentuk badan hukumnya.

Ngobrol di Coffee Toffe, Samping UMI, Makassar (doc pribadi, 2013)
Ngobrol di Coffee Toffe, Samping UMI, Makassar (doc pribadi, 2013)

Itu salah satu hikmah silaturrahim sore hingga malam itu. Kami bubar kira-kira sekitar pukul 22 lebih. Amin, semoga silaturrahim ini tetap terjalin.

Iklan