Aku berdiri di pinggir anjungan itu. Kuteguk air mineral yang tergeletak disebuah meja kecil. Disana berjejeran makanan ringan. Dari arah timur, cahaya matahari menyembul. Teriknya luar biasa. Sementara angin membisu. Tak jua menampakkan batang hidungnya. Tiba-tiba saja kawanku, si traveller bertanya.

 

Pulau Lantigiang dalam kawasan Taman Nasional Takabonerate (foto: Asri)
Pulau Lantigiang dalam kawasan Taman Nasional Takabonerate (foto: Asri)

Mul, butuh berapa lama ke kampungmu. Gua ni star dari Jakarta “?.

Ok, kalau ente dari Jakarta harus ke Makassar kurang lebih 2 jam. Makassar – Selayar kalau pesawat 30 menit dan kalau bus lebih lama lagi, kira-kira 8 sampai 10 jam” jelasku.

Kalau ke Takabonerate, berapa jam lagi“? tanya menyelidik.

Ya, kira-kira 4 sampai 5 jam bro” timpalku.

Habis diwaktu dong kalau begitu. Butuh kurang lebih 17 jam kalau ke destinasi utama” keluhnya.

Kita semua tentu sependapat bahwa destinasi underwater Selayar adalah salah satu yang terbaik. Tetapi pariwisata itu tidak sekedar destinasi. Ada banyak faktor yang saling berhubungan. Yang mengerjakannya pun tidak boleh ditimpakan semua kepada Dinas Pariwisata.

Sebenarnya tidak hanya Takabonerate yang bisa dijual. Tetapi bisa dikembangkan ke Budaya. Sebagai sub kultur kebudayaan Makassar, Selayar menjadi menarik dijelajahi. Pada dimensi destinasi, tidak ada persoalan. Kreatifnya masyarakat pariwisata  mendorong dan mengembangkannya.

Pulau Tinabo (foto: Asri)
Pulau Tinabo (foto: Asri)

Terkait dengan infrastruktur, masyarakat tidak bisa terlibat banyak. Infrastruktur adalah tanggungjawab Pemerintah. Keberadaan Bandara Aroeppala sejatinya menjadi gerbang masuk ke Selayar. Tapi ini saja tidak cukup, bagaimana jalan? Jalan inilah yang cukup problematik di Selayar. Hancur-hancuran, apalagi kalau musim hujan. Semakin banyak pilihan transportasi, visitor’s bisa mengambil keputusan mau menggunakan moda transportasi yang dipilihnya. Misalnya, bagaimana membangun konektivitas dari Bira langsung ke Takabonerate. Atau dari Labuhan Bajo.

Karang di kawasan Taman Nasional Takabonerate saat air surut (foto: http://jajalindo.com)
Karang di kawasan Taman Nasional Takabonerate saat air surut (foto: http://jajalindo.com)

Kelebihan Wakatobi dan Bunaken justru terletak pada aksesibilitasnya yang bisa dijangkau dalam waktu yang relatif pendek. Wisman biasanya tidak akan berfikir budget kalau destinasi yang dia inginkan menarik.

Kondisi ini tentu akan mempengaruhi pada strategi dan target market yang harus di sasar. Dengan waktu tempuh yang cukup jauh itu, maka yang dibidik mestilah yang memiliki cukup waktu untuk berwisata. Gagasan mengembangkan Bandara di Kawasan Taman Nasional Takabonerate menarik untuk semakin mendekatkan calon pelancong dengan destinasi.

Aspek-aspek penunjang juga sudah harus tersedia. Seperti perhotelan, tour guide, bank, toko oleh-oleh (cinderamata), restoran/cafe, rumah sakit dan juga keamanan (security). Ini berkaitan dengan partisipasi masyarakat pariwisata. Pengusaha bisa terlibat dalam konteks ini. Yang juga penting, masyarakat jangan kaget (shock culture) dengan budaya wisman yang berbeda. Ini juga penting dibangun kesadarannya. Kehadiran beberapa komunitas di Selayar seperti Sileya Scuba Diving (SSD), komunitas fotografi dan travelling cukup membantu promosi melalui jejaring social yang dimiliki.

Kondisi Infrastruktur Jalan Benteng - Pelabuhan Fery, Pattumbukan (foto: dg situru')
Kondisi Infrastruktur Jalan Benteng – Pelabuhan Fery, Pattumbukan (foto: #Moel)

Kalau aktivitas diatas bisa dikerjakan secara simultan, tentu akan berdampak pada bergeraknya ekonomi masyarakat. Ya itu, harus dikerjakan bersama. Jika ingin berkaca pada pengembangan pariwisata di Yogyakarta dan Bali, yang paling penting adalah kesiapan masyarakat. Tanpa itu, berat. Kalau masyarakat (pariwisata) siap dan infrastuktur (akses) ke Selayar ok, dititik inilah pariwisata bisa berkembang.

Iklan