Agak boring juga tinggal di rumah terus. Sore itu saya keluar rumah. Rencananya mau ke Ininnawa, sebuah lembaga penerbitan dan think tank yang fokus pada isu sejarah, kebudayaan dan literasi. Saya rencana membeli beberapa terbitan lembaga itu. Sejak di Jogja saya sering membaca buku khazanah budaya Sulawesi Selatan. Sederhana saja alasannya. Pada suatu waktu saya ditanya oleh orang Jawa tentang kebudayaan Sulawesi Selatan. Tentu saya kelabakan menjawabnya. Harap maklum, saya tidak pernah belajar khusus kebudayaan Sulawesi Selatan.

Nursam, AM Iqbal Parewangi dan A Syafi'i Ma'arif (foto: Haris)
Nursam, AM Iqbal Parewangi dan A Syafi’i Ma’arif (foto: Haris)

Dari peristiwa tersebut. Saya mulai membaca buku-buku khazanah budaya Makassar-Bugis. Saya beli buku-buku seperti “Latoa” karya pak Mattulada, “Kapitaselekta Kebudayaan Sulawesi Selatan” yang ditulis oleh Andi Zainal Abidin, “Minawang” buku karya pak Heddy (antropolog UGM), “Makassar Abad XIX” karya pak Edward (sejarahwan Unhas), “Kopra” yang ditulis pak Rasyid Asba, “Kuasa dan Usaha” terbitan Ininnawa, “Assikalaibineng” yang ditulis Muhlis Hadrawi, “Manusia Bugis” karyanya Pelras, “Perang Makassar 1669” yang tulis SM Noor dan juga dapat 2 hadiah buku dari kak Nursam (Direktur penerbit Ombak, saya akrab memanggilnya kak Uccang) masing-masing “Menyusuri Jejak Kehadiran Makassar dalam Sejarah” Mattulada, dan “Nilai-nilai utama kebudayaan Bugis” pak Rahman Rahim.

Sore itu kantor Ininnawa tidak buka. Jadi saya balik. Tiba-tiba saja ditelpon oleh kolega. Beliau adalah koordinator Indonesia Election Monitoring Network (IEMN) Sulawesi Selatan. Kira-kira saya diminta merapat ke cafe 212. He…he.. Wirosableng kapang? Saya lalu bergegas ke kawasan toddopuli, lokasi cafe itu.

***

Peserta Antusian Mendengar Pembahasan (foto: Haris)
Peserta Antusian Mendengar Pembahasan (foto: Haris)

Menjelang magrib saya lalu sms Kak Uccang. Saya sampaikan bahwa saya sedang di Makassar.

Oh iya saya lagi di Bandara Hasanuddin ini, Menjemput Prof Syafi’i Ma’arif. Bisakah kita buat diskusi dengan beliau” kira-kira begitu sms baliknya.

Ok kak, kita bisa ketemu dimana“? balasku, bertanya.

Di Clarion Hotel, Prof Syafi’i Ma’arif di minta menjadi narasumber di Indonesia Lawyer’s Club (ILC), sekitar pukul 21.00 Wita ya” jelasnya.

Insya Allah kak” balasku.

Saya sampaikan ajakan diskusi buku “Memoar Seorang Anak Kampung” kak Uccang ke Hadi (anak Pemuda Muhammadiyah) dan Eka (Ketua Nasyiatul Aisyiyah Sulsel). Gagasan itu disambut dan saya dengan Hadi bergegas menemui Buya Syafi’i Ma’arif di Clarion.

Praktis hanya ada waktu sehari untuk menyiapkan acara. Alhamdulillah, persiapan teknis di koordinasikan dengan baik oleh kawan-kawan. Undangan kami sebar melalui media sosial (facebook, twitter, whatsap, BBM). Acaranya dibuat malam, karena pagi harinya Buya Syafi’i Ma’arif mengisi orasi ilmiah di perayaan Milad ke-50 Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh).

***

Buya Menantangani Buku "Memoar Seorang Anak Kampung" (foto: Haris)
Buya Menantangani Buku “Memoar Seorang Anak Kampung” (foto: Haris)

Sekitar pukul 19.00-an, saya dengan kak Ilham (Sekretaris Pemuda Muhammadiyah) bergerak ke Clarion menjemput Buya. Disana sudah ada kak Uccang dan pak Rekator Unismuh, Irwan Akib. Kami berempat lalu melaju ke Gedung Serbaguna Aisyiyah tempat acara akan dilangsungkan.

Ada sekitar 50-an orang lebih yang hadir. Mereka mayoritas anak muda, baik dari IMM, IPM, Nasyiatul Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah dan satu dua juga pengurus Muhammadiyah.

Buya Foto Bersama AMM Sulsel (foto: Haris)
Buya Foto Bersama AMM Sulsel (foto: Haris)

Berbicara sebagai pembahas buku; A.M. Iqbal Parewangi, alumni Mu’allimun, Fisika UGM dan owner Gama College, Makassar; Hadi, Buya dan moderator kak Uccang. Proses diskusi berjalan cukup serius. Sesekali ada canda tawa dari narasumber, termasuk Buya Syafi’i. Buku “Memoar Seorang Anak Kampung” oleh kak Uccang, dijelaskan, perubahan dari buku sebelumnya, yaitu “Titik Titik Kisar Diperjalananku” hanya saja sudah ditambahkan sekitar 20% dari buku itu.

IMG-20130626-WA0001-1Pesan yang bisa dimaknai dari buku “Memoar Seorang Anak Kampung” adalah pentingnya kerja keras, kesabaran dan dedikasi pada sesuatu yang diyakini kebenarannya. Perjalanan kehidupan tidaklah linear. Ada suka. Ada juga duka. Tetapi bagi Syafi’i Ma’arif, keimanan telah mengokohkan fondasi segalanya. “Saya ini alumni Mu’allimin” ujarnya pada bagian buku ini tatkala harus menghadapi pilihan-pilihan sulit keputusasaan.

Iklan