Puasa Pertama di Makassar


Stasiun Tv One masih melangsungkan reportasenya soal sidang isbat. Di sebuah rumah di kawasan padat penduduk, tidung, Makassar kami asyik berdiskusi. Tapi bukan soal kapan mulai puasa. Ya, kami membincang tentang umat Islam yang begitu riuh. Seolah tak punya sikap toleransi. Bahwa kita berbeda. Iya. Tapi apa harus sibut. Tidak kan. Toleransi itu kata kerja. Dan sejak belajar Islam dan aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah, saya diajari untuk bersikap toleran kepada orang lain. Bahkan kepada mereka yang tidak beragama sekalipun.

Tidak ada yang istimewa di puasa pertama ini. Yang pasti saya memulai puasa ramadhan pada tanggal 1 Ramadhan di tanah Makassar. Sudah cukup lama tidak memulai puasa di Makassar. Terakhir tahun 2006.

Saya tidak pernah memulai puasa dengan acara khusus. Misalnya pulang ke rumah atau menyediakan hal-hal ekslusive lainnya. Tidak. Bahwa kebersamaan dalam keluarga iya. Penting. Tapi kalau memang tidak memungkinkan, kenapa harus dipaksa-paksa. Kampungku cukup jauh dari Makassar. Butuh waktu kurang lebih sehari lagi untuk mencapai Selayar.

Ramadhan kali ini saya awali puasa Selasa, tanggal 09 Juli 2013. Nginap di rumahnya kawan Hadi. Seringkali kalau saya ke Makassar memang menginap dirumahnya. Pun kali ini saya dirumahnya. Saya ikut makan sahur dengan keluarganya. Bung Hadi ini adalah aktivis (Wakil Ketua) Pemuda Muhammadiyah Sulsel. Ia sering menulis di Fajar dan Tribun Timur, khusus topik-topik Islam dan sosial.

Menjelang siang, atau ba’da (setelah) sholat dzuhur saya keluar rumah. Tujuanku ke jalan Mappanyukki. Ada keperluan mendownload bahan. Jalanlah saya ke Mappanyukki, kantor BaKTI. Disana saya baca buku dan mengakses internet. Sebelum berangkat tidak lupa saya menghubungi kawan di Yogyakarta. Saya minta untuk membawakan Camera, 1 celana jeans dan al-Qur’an.

“Wiek, kamu diman?” Tanyaku kepada kawan itu.

“Di kontrakan kak” balasnya.

“Oh iya aku minta tolong ya, bawakan Camera, 1 buah celana jeans dan al-Qur’an di kamarku” pintaku melalui telepon.

“Ok kak, berapa kode kuncinya?” balas Wiek, bertanya tentang gembok kamarku.

“Nanti ku SMS kan ya” balasku singkat.

***

Pulang dari bakti, saya menghubungi Wawan agar ketemuan di Warkop, sepuran jalan Alauddin. Saya lalu bergeser ke Alauudin untuk berbuka puasa disana. Apa pelajaran penting yang bisa dirogoh dari kasus ini, betapa Tuhan ingin mendidik kita agar bisa bertoleransi kepada orang yang berbeda dengan kita.

Toleransi tidak hanya diumbar diruang-ruang publik. Yang lebih penting dari itu, toleransi adalah kata kerja. Sebagai sesama muslim, perlu kiranya saling memahami. Perbedaan ini [penetapan 01 Ramadhan] bukanlah perkara pokok. Tetapi masalah cabang. Sepanjang kita memiliki dalilnya. Silahkan jalan. Selamat berpuasa ya teman-teman yang melaksanakannya.

Iklan

Satu pemikiran pada “Puasa Pertama di Makassar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s