Setelah terkatung-katung dalam ketidakpastian yang panjang, tiga bulan. Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Sulawesi Selatan akhirnya melakukan uji kelayakan dan kepatutan pada tanggal 18 Juli 2013 terhadap 10 orang calon yang dihasilkan oleh Tim Seleksi tingkat Kabupaten Kepulauan Selayar. Pada tanggal 19 Juli 2013, siang akhirnya kepastian 5 anggota KPU Kabupaten Kepulauan Selayar diumumkan untuk selanjutnya dilantik pada tanggal 20 Juli 2013. Kelima nama tersebut adalah; (1) Hasiruddin, (2) M. Karyadin, S.Sos., (3) Masmulyadi, (4) Andi Nastuti, ST., S.Pd., dan (5) Muh. Darwis.

***

Udara Jogja Nampak terik. Tetapi rumah kontrakan yang kami diami masih adem. Pohon-pohon yang rindang seolah menjadi payung bagi terik matahari yang terik. Di sebuah siang, tiba-tiba dering ponselku berbunyi. Dari kaca terlihat bahwa yang menelpon adalah teman dari Selayar, tempat kelahiranku.

“Ada pendaftaran calon anggota KPU, cobalah mendaftar” ujarnya dari ujung telepon.

“Coba dilihat sampai kapan pemasukan berkas. Oh iya ambilkan juga formulir” timpalku.

“Ok kalau begitu” jawabnya.

Segera ku telusuri di google persyaratan yang harus disiapkan untuk menjadi komisioner, Komisi Pemilihan Umum (KPU). Tidak luput juga aku buka website KPU dan mendonload form-form yang harus diisi. Kusiapkan foto, mengisi form dan menyiapkan makalah. Semuanya ku kerjakan di Jogja. Hanya syarat keterangan sehat yang harus ku ambil di Selayar. Pendaftaran dibuka mulai tanggal 1 – 13 April 2013. Saya berangkat dari Jogja tanggal 07/04 dan singgah beberapa hari di Makassar. Menuju ke Selayar tanggal 10/04. Besoknya lalu mengurus surat tidak pernah dipidana di Pengadilan Negeri Selayar (Bayar 50.000) dan mengurus keterangan dokter di puskesmas. Akhirnya pada hari jum’at (12/04) saya masukkan berkas dan diterima oleh panitia seleksi.

Ketika pengumuman administrasi, akhirnya namaku masuk untuk mengikuti seleksi berikutnya. Tahapan berikutnya adalah tes tertulis, tes kesehatan (rohani, dll) dan psikologi. Sebelum tahapan itu semua, saya harus balik ke Jogja melaksanakan workshop dengan para tenaga pendidik (Gadik) Akademi Kepolisian kerjasama dengan PUSHAM UII dimana saya adalah project officer untuk program religious freedom.

Pengumuman Administrasi Calon Anggota KPU Selayar
Pengumuman Administrasi Calon Anggota KPU Selayar

Di Selayar saya membawa beberapa bahan dan buku-buku karena pada saat yang bersamaan harus menyelesaikan modul “polisi dan kebebasan beragama” untuk pelatihan teruna. Juga harus menyelesaikan draft buku lainnya yang sudah terlanjur saya sanggupi untuk ditulis. Risiko.

Tanggal 24/4 saya akhirnya ke Jogja melalui Surabaya. Saya nginap di rumahnya kawan Mudzakkir, dosen Universitas Negeri Surabaya. Sebelum berangkat, ku kabarkan juga kepada sahabat SMA ku. Amran Amir namanya. Dia adalah teknisi pesawat di Bandara Juanda, Surabaya. Magrib pesawat yang ku tumpangi tiba di Surabaya. Kami lalu makan malam di kantin bandara. Cukup lama kami nongkrong di Bandara. Ia juga banyak cerita soal pengamanan Bandara yang banyak melibatkan TNI AL itu.

Kira-kira pukul 20.00 Wib kami bergegas ke parkiran. Ia akan mengantarkan ke kawasan UNESA. Namun kami harus balik ke kostnya dulu untuk mengambil helm. Amran juga tidak terlalu hafal dengan wilayah Surabaya, hanya menguasai area sekitar bandara, paling jauh ya Bungur Asih (terminal). Dengan GPS ponselku, kami bergerak kearah UNESA. Setelah telp beberapa kali akhirnya sampai juga.

Pengumuman Hasil Seleksi Tertulis, Tes Kesehatan dan Tes Psikologi calon anggota KPU Selayar
Pengumuman Hasil Seleksi Tertulis, Tes Kesehatan dan Tes Psikologi calon anggota KPU Selayar

Saya cukup lama tidak ketemu dengan sahabat Amran ini. Mungkin terakhir tahun 2001. Selepas SMA, ia melanjutkan kuliah kedirgantaraan di Makassar dan melanjutkan S1-nya di Universitas Nurtanio, Bandung bidang elektronika pesawat (rada-rada lupa). Maraknya teknologi informasi kembali mempertemukan kami, melalui situs selayaronline dot com kami lalu bertukar nomor hp untuk selanjutnya berkomunikasi via HP dan terkahir melalui jejaring facebook.

Pagi-pagi saya minta diantar ke stasiun, soalnya buru-buru ke Jogja. Di Jogja ada banyak hal mesti diselesaikan, khususnya terkait rumah kontrakan yang masa kontraknya sudah habis. Pilihannya melanjutkan atau angkat kaki dari rumah itu. Sebenarnya tinggal dirumah itu cukup nyaman, tetapi nilai sewanya sudah naik seiring kenaikan BBM. Sementara kami tinggal bertiga. Setelah diskusi sana-sini akhirnya diputuskan untuk melanjutkan. Seorang teman dari Madura mau ikut membayar kontrakan itu. Dan kami pun tidak jadi pindah.

Pengumuman Hasil Seleksi Wawancara
Pengumuman Hasil Seleksi Wawancara

***

Praktis di Jogja hanya ketemu kawan-kawanku. Berdiskusi dan nongkrong. Berkunjung ke kantor Inspect dan sebagainya. Kebetulan juga waktu itu ada workshop digital school yang diselenggarakan oleh mas Asykuri & Irfan Nugroho. Saya ikut kerena diajak bung Yazid. “Ya sekalian ngobrol-ngobrol dengan mas Asykuri” batinku.

Akhirnya kabar dari Selayar pun datang, saya dinyatakan lolos tes tertulis, tes kesehatan dan psiko test sebagai calon komisioner KPU Kabupaten/Kota. Oleh karena itu saya perlu segera ke Selayar untuk mengikuti tes wawancara untuk bisa masuk ke 10 besar yang selanjutnya akan mengikuti uji kelayakan dan kepatutan.

Segera saya mencari tiket pesawat untuk keberangkatan ke Makassar. Akhirnya ketemulah harga yang pas, yaitu pesawat direct Jogja –  Makassar, Merpati (05-05-2013). Mengapa? Biar menghemat waktu, tidak perlu lagi ke Surabaya karena pada tanggal 09 Mei sudah harus wawancara.

Wawancara ini diikuti oleh 19 kandidat komisioner. 5 diantaranya adalah komisioner yang masih aktif alias incumbent. Selebihnya ada yang PNS, NGO seperti saya dan wiraswata atau minimal sebagai penyelenggara pemilu tingkat kecamatan.

Saya pun berusaha memahami peraturan (UU) terkait partai politik, pemilu legislative dan penyelenggara pemilu. Saya kira pertanyaan tidak akan jauh dari soal-soal itu. Proses wawancara layaknya sidang skripsi, problemnya pertanyaan yang dilontarkan oleh pewawancara betul-betul tidak terprediksi. Sedangkan kalau ujian skripsi, jelas tidak akan keluar dari laporan yang dibuat.

Pertanyaan diawali dengan isu seputar hukum kepemiluan, integritas, sistem pemerintah dan kepemimpinan. “Coba saudara urutkan hierarki perundangan di Indonesia”? Tanya pewawancara. Lumayan pelajaran PPKn di waktu SMA cukup membantu dalam menjelaskan pertanyaan tersebut. Termasuk pertanyaan soal sistem pemerintahan yang dianut oleh bangsa Indonesia. Lalu pewawancara masuk ke pertanyaan-pertanyaan soal integritas dan data diri yang dituliskan di biodata. Alhamdulilah semuanya bisa saya jawab dan jelaskan dengan baik.

Salah satu hal yang penting juga dalam fase sebelum wawancara ini adalah tanggapan masyarakat. Saya berusaha menghubungi beberapa ketua lembaga yang mengenal saya secara pribadi untuk memberikan dukungan kepada saya untuk menjadi calon anggota komisioner KPU Kabupaten/Kota. Ada 9 lembaga yang berhasil saya kumpulkan atas bantuan saudara A. Irwan (rekan saya waktu di IRM tahun 2000-an).

Dua hari kemudian pengumuman 10 besar pun di lakukan oleh Tim Seleksi. Kesepuluh nama tersebut, yaitu: Andi Ratna, SP (fasilitator PNPM), M. Karyadin, S.Sos. (Panwas), Muh. Darwis (Komisioner lama), Muh. Arsyad (PNS), Masmulyadi, Andi Nastuti, ST., S.Pd. (fasilitator Acces), Suhertina (PNS), Andi Sandra (Wiraswasta), Hasiruddin (Komisioner lama), dan Zaenal Arifin Amus (PNS).

KPU Sulawesi Selatan melalui surat Nomor: 412/KPU-Prov-025/V/2013 yang ditanda tangani oleh Ketua KPU Sulsel, Dr. Jayadi Nas mengundang kepada calon anggota KPU Kabupaten/Kota untuk mengikuti fit and propert test pada tanggal 20-21 Mei 2013 di Kantor KPU Sulsel.

Oleh tim seleksi Kabupaten disampaikan bahwa pemberangkatan akan dilaksanakan secara bersama pada tanggal 19/5 (kalau tidak salah). Saya memutuskan untuk berangkat lebih awal ke Makassar untuk memastikan perkembangan-perkembangan yang terjadi. Termasuk beredarnya sms tentang kewenangan KPU Sulsel untuk menfit and propert test. Di Makassar saya berkoordinasi dengan kawan-kawan di Kabupaten lain yang juga kebetulan ikut seleksi. Semua pada kasat kusuk dengan pertanyaan yang sama “Apakah besok jadi fit and propert test”?

Siang hari tanggal 19/5 saya ketemu dengan kak Sulhan (mantan Ketua KPU Soppeng), kak Sulhan menanyakan langsung melalui telepon ke kak Jayadi kepastian soal pit and propert itu. Saya mendengar langsung pernyataan dan alasan kak Jayadi karena kak Sulhan mengaktifkan speaker HP-nya. Kak Sulhan sarankan kepada saya agar ikut saja proses dulu, bagaimana pun kak Jayadi masih resmi sebagai Ketua KPU.

Sorenya kami kumpul-kumpul di kawasan Panakkukang. Disana ngobrol banyak hal, soal pit and propert yang tidak pasti itu. Sampai malam kami duduk di warkop. Kira-kira isya’ kak Ilham menelpon ke kak Syamsir (anggota KPU Sulsel) untuk ketemu mengenalkan saya dan memastikan jadwal pit and propert test lusa (21/5).

Untuk memperoleh kepastian saya mencoba menghubungi teman anak Jurusan Ilmu Pemerintahan UGM. Saya minta nomor HP mas Sigit Pamungkas, MA (Anggota KPU RI) untuk menanyakan secara langsung bagaimana status hukum pit and propert test yang akan dilaksanakan oleh KPU Sulsel dibawah kepemimpinan Jayadi Nas.

Jadwal seleksi KPU Kabupaten/Kota oleh KPU provinsi harus mendapat persetujuan dari KPU R.I. Dalam jadwal yang disetujui oleh KPU RI, pit and propert test dilakukan oleh KPU yang baru. Jadi, kegiatan yang akan dilakukan tidak ada dalam jadwal sehingga kegiatan itu tidak benar. KPU akan menganulir kegiatan itu” begitu SMS mas Sigit ke saya.

***

Pengumuman 5 komisioner Terpilih (sumber: tribun online)
Pengumuman 5 komisioner Terpilih (sumber: tribun online)

Akhirnya pit and propert test tidak jadi dilaksanakan. Oleh karena itu menunggu KPU provinsi yang baru. Dan tanggal 24/5 KPU RI melantik lima komisioner KPU Sulsel, yaitu: M Iqbal Latief (Ketua), Faisal Amir, Khaerul Mannan, Mardiana Rusli dan Misnah Hattas.

Problemnya kemudian menjadi rumit karena KPU Provinsi yang lama membatalkan hasil tim seleksi tanpa penjelasan yang memadai dan masuk akal. Setidaknya ada tiga kabupaten yang mengalami kendala yaitu Takalar, Bulukumba dan Selayar yang berakibat pada tertundanya jadwal pelaksanaan pit and propert test. Tiba-tiba pada tanggal 18 Juni ada surat pemberitahuan/undangan mengikuti pit and propert test di Makassar tetapi bukan lagi 10 orang melainkan 19 orang.

Jujur saya pribadi tidak setuju dengan keputusan KPU Sulsel yang tidak memberikan penjelasan terkait keputusan untuk kembali ke 19 besar itu. KPU Sulsel hanya merujuk pada pasal 39 ayat 2 PKPU No. 2 Tahun 2013 tanpa menjelaskan reasoningnya apa? Tahapan apa yang bermasalah dan masalahnya apa ..? Dan karena itu harus diulang ke 19 sekaligus juga diambil alih oleh KPU Sulsel sesuai pasal 40 ayat 2 PKPU No. 2 tahun 2013.

Saya lalu ber-SMS ke ibu Mardiyana Rusli (Ana) mempertanyakan alasan pengulangan tersebut. Saya lalu diminta ke kantor KPU Sulsel untuk mendengar penjelasannya. Sampai di Makassar sudah pukul 16.00 saya ke kantor KPU Sulsel sudah tidak ada komisioner. Sementara sudah harus pit and propert test tanggal 20 di hotel …. (lupa).

Saya sudah berketetapan untuk tidak ikut pit and propert test. Karena menurut saya tidak ada alasan krusial yang perlu membatalkan keputusan timsel. Sambil sarapan pagi, tiba-tiba ada sms masuk mengabarkan kalau sedang ada aksi di KPU Sulsel dari mahasiswa Selayar yang meminta kepada KPU Sulsel untuk membatalkan pit and propert test. Mereka akhirnya diterima oleh komisioner dan pada hari itu juga KPU Sulsel melakukan pleno terkait pit and propert test.

Batal lagi pit and propert testnya. Di sejumlah harian di Makassar disampaikan oleh KPU Sulsel bahwa pit and propert test terkait Selayar akan ditunda sampai waktu yang tidak ditentukan. Meskipun begitu, saya memutuskan untuk tetap saja di Makassar. Disamping memantau perkembangan juga akan ada training kepemimpinan nasional yang akan dilaksanakan oleh Ikatan Pelajar Muhammadiyah, saya oleh teman-teman PP IPM diminta menjadi fasilitator pada training tersebut.

Kurang lebih 3 minggu lamanya, akhirnya kabar baik itu datang. Di bulan Ramadhan, saya sebenarnya sudah agak lupa dengan proses itu. Tiba-tiba di siang hari pada tanggal 18/7 teman yang juga masuk 10 besar, kak Andi Ratna menelpon dan mengabarkan pelaksanaan pit and propert test tanggal 18 Juli di Kantor KPU Sulsel pukul 13.00 WITA. Teman-teman yang di Selayar karena penyampaian datang pada pukul 12.00 siang, otomatis sudah tidak ada lagi bus yang bisa ditumpangi. Satu-satunya cara yaitu naik perahu (Bahasa Selayar: Jolloro) ke Bulukumba untuk selanjutnya ke Makassar. Setidaknya ada 7 orang. Saya dan 2 orang lainnya sedang di Makassar.

Pengambilan sumpah dan pelatikan anggota KPU Takalar & Selayar (20/7/2013)
Pengambilan sumpah dan pelatikan anggota KPU Takalar & Selayar (20/7/2013)

Hari kamis 18/7 dilaksanakan pit and propert test. Satu persatu calon komisioner dipanggil ke ruangan untuk ditanya. Didepan kantor KPU Sulsel juga berlansung orasi yang meminta penundaan pit and propert test. Saya diwawancarai kurang lebih 15 menit, mungkin tidak sampai. Ada empat orang yang bertugas mewawancarai kami, yaitu M. Iqbal Latief, Faisal Amir, Mardiana Rusli dan Khaerul Mannan.

Besoknya saya menyalakan HP setelah jum’at, kira-kira pukul 14.00 siang. Saya kaget tiba-tiba banyak sekali ucapan selamat yang menghambur ke ponselku. “Selamat ya, saudara terpilih sebagai komisioner KPU Selayar, siapkan diri untuk pelantikan besok” kira-kira begitulah bunyinya.

Akhirnya karena untuk pelantikan harus pakai jas dan celana kain. Saya harus menghubungi teman-temanku di Makassar yang punya jas dan celana kain. Saya hanya membawa satu celana jeans dan 1 kameja dari Jogja. Malam harinya saya diantar oleh Wawan – Ketua PP IPM – beli peci di jalan sultan Alauddin. Jas dan celana saya pinjam sama Jay. Pagi-pagi Jay sudah mengantarkan jas dan celana. Awalnya cuma pinjam jas, tetapi dia membawa serta dengan celananya. Beberapa menit sebelum pelantikan saya beli dasi di Ramayana.

Anggota KPU Sulsel, Faisal Amir memberikan ucapan selamat (20/7/2013)
Anggota KPU Sulsel, Faisal Amir memberikan ucapan selamat (20/7/2013)

Sekitar pukul 10.30 kami tiba di kantor KPU Sulsel. Disana sudah ada kawan saya, Alimuddin yang juga lolos di KPU Takalar. Kami dilantik pada tanggal 20 Juli 2013 sebagai komisioner KPU Selayar dan Takalar.

Ya inilah takdir. Saya hanya berusaha menjalani. Dan takdir ini mengantarku kembali ke Selayar.

Iklan