Terik mentari Desember seolah mencapai kulminasi. Suasana Jogja panas bangat. Di sebuah kamar kontrakan pada barisan rumah penduduk yang padat, kami berempat duduk menikmati kopi. Di utara kontrakan, rumah sakit Ludira Husada berdiri gagah. Juga sebuah sekolah Katolik. Di selatannya berjejar makam sebagai pertanda bahwa kontrakan itu diapit oleh kuburan dan rumah sakit. Betapa mengerikannya kontrakan ini. Itulah mengapa, tidak banyak mahasiswi yang mau ngontrak dekat-dekat kawasan ini. He..he……

Keempat kawanan itu, saya, Nugroho Notosusanto (si empunya kontrakan; biasa dipanggil Nugi), Jamaluddin dan Hendra Darmawan (pak Dosen UAD). Rumah kontrakannya memang sering kami tempati ngopi. Jika saya dari Makassar dan sedang bawa kopi Toraja, sebagian saya alokasikan untuk di simpan di tempat Nugi. Atau siapa pun kawan yang dari luar entah ke Medan atau ke kota-kota yang dikenal memiliki produksi kopi, pastilah di saving untuk di simpan di markas (begitu kami sering menyebutnya).

Menjelang siang tercetus rencana untuk mengunjungi Insist. Ya, lembaga yang didirikan oleh almarhum Mansour Faqih. “Ayo ke Insist yuk” ujak Hendra. “Ok, saya juga mau hunting buku” jawabku.

Pendopo Mansour Faqih
Pendopo Mansour Faqih

Waktu itu saya sedang mencari buku yang sudah agak lama terbitnya dan sudah tidak dijual bebas di pasaran. Buku itu disunting oleh Roem Topatimasang. Judul lengkapnya “Orang-orang kalah”. Diberi pengantar oleh antropolog UGM, PM Laksono. Berangkatlah kami menyusuri jalan HOS Cokroaminoto, berbelok ke jln Magelang, terus ke kanan menyusuri ring road utara menuju ke Palagan. Sengaja lewat jalan palagan biar tidak terlalu macet. Soalnya kalau lewat jalan kaliurang biasa kendaraan padat.

Beberapa menit kemudian kami pun sampai. Rupanya kalau hari sabtu Insist libur. Kami mengetuk pintu. Hanya ada seorang di dalam. Kami akhirnya memutuskan untuk ke pendopo Mansour Fakih. Disana kami mengaso, kebetulan juga ada beberapa buku bacaan disana. Sambil istirahat menyempatkan diri baca buku.

Tidak beberapa lama, seorang – mungkin bagian dapur – menawari kami kopi. “Ngopi mas”! tawarnya kepada kami. “Nggeh” balas Nugi. Ia pun menyeduh kopi dan diantarkan ke kami yang duduk-duduk di pendopo. Terjadilah perbincangan tentang pelatihan dan kegiatan-kegiatan Insist. Nugi juga sempat melihat kamar kost yang biasanya disediakan untuk mereka yang akan mengikuti training di Insist dan berasal dari luar jawa.

Setelah cukup lama, kami pun memutuskan pulang. “Balik aja yuk, nanti senin kesini lagi” ajak Hendra. Saat akan pulang saya mau membayar kopi itu. “Mboten mas” jawab bapak itu. Kami pun kedepan dan pamit ke mas yang jaga. Menurut keterangan mas itu, memang sudah jadi kultur di Insist bagi siapa saja tamu disuguh dengan kopi. Wah mantap juga.

Mengeksekusi Papeda, masakan khas Ambon
Mengeksekusi Papeda, masakan khas Ambon

Kami mampir makan siang di dabu-dabu. Saya dan Nugi sering makan ikan di dekat kali code. Mencari warung khas timur memang rada-rada susah di Jogja. Kami pesan papeda. Kebetulan kami berempat tidak ada yang Jogja asli. Si Jamal orang LA (Lamongan Asli), Hendra asli Lampung, Nugi dari Rokan Hulu, Riau sementara saya dari Makassar.

Memang sudah agak lama tidak makan papeda ikan. Terakhir tahun 2006 saat saya ke Ambon. Memang beda sih antara papeda di Jogja dan di Ambon. Sama seperti ketika makan coto Makassar di Jogja dengan coto di Makassar.

Iklan