Ia begitu polos bercerita malam itu. Dari raut mukanya terbersit ketulusan. Dari bicaranya keluar istilah-istilah yang mencerminkan eskpresi autentik. Tidak menipu. “Saya nabung tiga tahun untuk membeli 2 ekor kambing kurban” jelas mak Yati, perempuan asal Jember, Jawa Timur itu disebuah stasiun TV Swasta.

Mak Yati dengan ekspresinya (sumber: http://media.viva.co.id)
Mak Yati dengan ekspresinya (sumber: http://media.viva.co.id)

Mengapa ketulusan menjadi penting? Karena disitulah sebuah perbuatan dinilai. Bukan pada lahiriahnya. Bukan pada besarnya sapi yang di kurbankan. Tetapi pada seberapa tulus kita memberi. Seberapa otentik kita menyediakan diri untuk berbagi kepada mereka yang belum beruntung.

Mak Yati telah memberikan pelajaran kepada kita, bahwa sepanjang ada keinginan pasti ada jalan. Ia berusaha dengan segenap kemampuan yang ada untuk bisa memberi. Bagaimana dengan kita yang kehidupannya lebih baik? Apa yang sudah kita perbuat? Adakah suara hati kecil kita tergerak untuk bisa berbuat lebih baik. Menolong sesama. Memberikan yang terbaik yang kita miliki. Bahkan Ibrahim, Nabinya agama-agama besar dunia merelakan anak satu-satunya untuk di sembelih. Dan pada titik itulah, Tuhan lalu mengganti ketulusan Ibrahim dengan seekor kibas yang kemudian menjadi tradisi hingga kini.

Nilai ketulusan itulah yang digaris bawahi. Karena besar dan kecil itu sangat relatif. Yang pasti bahwa, ketulsan adalah roh dari semua itu. Sebesar apa pun hewan yang di kurbankan, tidak punya nilai. Bahkan secara material mungkin nilainya luar biasa. Tetapi menjadi biasa-biasa saja ketika orang yang berpunya. Disinilah letak istimewanya Mak Yati.

Semoga bisa mengispirasi kita semua. Wa Allahu A’lam

Iklan