Secangkir Kopi di Warkop Wajo


Langit Makassar lumayan terang sejak pagi. Sore itu saya bergerak ke kawasan Pengayoman. Cahaya lampu kota mulai menyala. Pertanda bahwa pergantian siang dan malam kini dimulai. Itu sunnatullah. Artinya ada siang pastilah ada malam. Demikian sebaliknya. Mobil dinas yang saya tumpangi mengantarku menyusuri jalan pengayoman. Saya minta diturunkan di sebuah jasa penjahitan pakaian. Saya memesan pakaian untuk kepentingan dinas kantor; sebuah jas.

Saya kirim pesan kepada seorang teman. Mengajaknya ngopi. “Ngopi yuk? saya lagi di jalan pengayoman, mau ke MP” begitu kira-kira sms yang saya kirim. Kebetulan sekali, sore itu saya mau beli kaos bola, Chelsea. Ia membalas. “Ok, saya masih di Smartfren, sedang antrian. Mungkin sejam lagi baru nyampe” balasnya dengan cepat.

Sms berlanjut. Tetapi setiap aku sms, sepertinya ini kok tidak nyambung. “Saya menduga keras Maidah ini salah terka” bisikku dalam hati. Mungkin saja ia punya teman yang namanya mirip dengan saya. Lama kelamaan akhirnya mengerti juga dia. Saya jadi ketawa sendiri, ha..ha…. Sekitar pukul 17.00-an akhirnya kami ketemu di lantai 2. Awalnya sih mau ngopi saja. Tapi saya sudah lapar. “Sekalian makan malam yak?” ajakku. Dan kami pun makan malam di warung Surabaya.

Ini temanku, Anthy” begitu ia memperkenalkan temannya. Lulusan kesehatan masyarakat Unhas. Ia bergiat sebagai fasilitator program keluarga harapan (PKH). Program yang dinaungi oleh Kementrian Sosial.

Sebenarnya saya pengen makan ikan lele malam itu. Tapi kedua teman ini nampaknya agak-agak bagaimana gitu dengan lele. Akhirnya gak jadi deh pesan lelenya. “Ini demi toleransi” dalam hati bergumam. Sebagai gantinya, saya lalu pesan soto ayam, Maidah paruh goreng dan Anthy ayam goreng.

Apa yang menarik di warung ini? Gaya pelayanannya yang super cuek alias kutu kupret. Saya sudah dua kali makan di warung ini. Sekali waktu dengan kak Syam, senior saya di gerakan dulu. Jadi sedikit banyak tau bagaimana pelayannya yang cuek itu. Sehingga saya tidak memanggilnya hingga ia datang. Kira-kira begitulah. Ini sangat keluar dari pakem “pelayan” untuk dunia bisnis.

***

Usai makan rupanya waktu masih pukul 20-an. Mau pulang ke hotel masih telalu cepat. Lalu kami bergeser ke kopi wajo. Warkop ini berada disisi selatan jalan pengayoman ke arah toddopuli. Saya ajak abul, awank dan abdi bergabung. Hanya abul yang bisa datang malam itu. Jadinya kami ngopi dan ngobrol soal banyak hal. Tentang kopi, buku dan program. Tentang kuliah dan hubungannya dengan karir, Tentang perubahan sosial di Bonerate, dan lain-lain.

Soal karir ini, saya begitu ke pincut dengan penjelasan Rene Suhardono. Ia membedakan antara karir (career) dan pekerjaan (job). “Your Job Is Not Your Career!” begitu ia sering menyampaikan. Bagi Rene, pekerjaan sekedar alat untuk sampai kepada tempat yang hendak dituju. Sementara karir adalah petualangan itu sendiri. Ya petualangan diri atas passion yang dimiliki. Atas bakat alam yang dimiliki.

Malam itu kepada saya diperkenalkan sosok anak muda asal Bonerate, Selayar. “Asri” begitu ia mengenalkan diri saat kami berjabat tangan. Saya bercakap dua patah kata dengan bahasa Bonerate. Beberapa memang sudah saya lupa. Sudah sejak tahun 1994 meninggalkan pulau itu dan tak pernah lagi kembali. Bahasa, kalau tidak dipakai pasti agak susah berdialognya. Dengan terbata-bata sambil mengingat-ingat apa yang bisa saya bahasakan dan berdiskusi dengan Asri malam itu.

Saya menanyakan beberapa kebiasaan dan tradisi di sana seperti upacara penurunan kapal ke laut, perkelahian kuda, permainan tradisional seperti nggoe’, dan anggaru. Hanya saja dari penjelasan Asri, saya menangkap begitu dramatisnya perubahan yang terjadi dalam kurung waktu hanya sekitar 17-an tahun itu. “Sejak TV dan ponsel masuk ke wilayah itu, dinamika masyarakat juga turut berubah” demikain penjelasan yang ku peroleh dari Asri. Tapi secepat itu kah? dan bagaimana kebudayaan bisa begitu cepat tercerabut? Saya belum bisa paham.

Entahlah. Saya memang sedang merencanakan berkunjung ke pulau itu. Mudah-mudahan cuaca aman dan bisa mengunjungi pulau dimana saya banyak menghabiskan masa kecil; bermain dan sekolah.

Iklan

2 pemikiran pada “Secangkir Kopi di Warkop Wajo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s