Teng…! teng…! Suara nada pemberitahuan yang masuk ke group whatsap smart phone milikku berdenting terus menerus. Sejenak saya melirik jam yang terpampang kaku di dinding, waktu sudah menunjukkan pukul 24.45 Wita. Saya tak lagi memedulikan hilir mudik pesan itu. Sejak sore, nyeri kepala membuatku tak berkutik dan perut terasa mual. Ingin sekali muntah rasanya.

with bang Said
Foto yang cukup bersejarah di Kulon progo (Barori, 2010)

Di luar kantor, embun tampak turun. Ia membasahi kendaraan yang terparkir tak beraturan di kantor lembaga penyelenggara pemilu itu. Saya beranjak ke musholla kantor dan merebahkan badan. Tak ada firasat apa pun malam itu.

Usai sholat subuh kurang lebih pukul 05.00 Wita saya membuka ponsel. Mengecek pesan yang masuk. Satu persatu saya buka group-group whatsap yang saya ikuti. Betapa kagetnya, saat membuka group Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Bachtiar Dwi Kurniawan (Gus Bach: begitu kami menyapanya), Sekretaris MPM PP Muhammadiyah itu mengirim pesan duka yang menghentak: “Innalillahi wainna ilaihi rajiun, hari ini, Selasa jam 23.33 Wib, Dr. Said Tuhuleley, telah wafat di R.S. Sarjito Yogyakarta. Mohon dimaafkan segala salah dan khilaf. Semoga khusnul khotimah”.

Pengayom Kaum Muda
Sejenak saya tertunduk haru. Metaku berkaca-kaca. Sedih. Saya ingat kembali memori saat awal mengenal almarhum lewat tulisan-tulisannya di Majalah Gerbang. Sebuah majalah yang digawangi oleh almarhum lewat Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pendidikan (LP3) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Saat saya menjadi Ketua Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM) tahun 2006-2008, lembaga kami mengerjakan proyek “kroyokan” antara MPM, Nasyiatul Aisyiyah dan IPM untuk mengembangkan kehidupan sosial ekonomi para pengemudi becak di sekitar Gedoeng Muhammadijah, jalan Kiai Haji Ahmad Dahlan Nomor 103 atas dukungan Lazis Muhammadiyah. Pelan-pelan saya mulai berinteraksi secara langsung dengan almarhum.

Usai kepengurusan berakhir di PP IPM tahun 2008 saya lalu diajak bergabung di MPM yang almarhum pimpin. Ditangan Pak Said, MPM fokus pada mengembangkan model pertanian ramah lingkungan. Saya pun lalu ikut dengan tim keluar masuk sawah diberbagai tempat dimana MPM mendampingi petani dan kelompok-kelompok mustadha’afin lainnya.

Sejumlah peran dan aktivitas dipercayakan kepada penulis. Almarhum misalnya mempercayakan kepada saya untuk menjadi Sekretaris panitia mendampingi Gus Bach pada pelaksanaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II MPM tahun 2009 di PPATK Matematika, Yogyakarta. Terutama penulisan sejumlah konsep-konsep; modul, proposal atau pun kerangka acuan berbagai kegiatan dan program. Barulah finishing di tangan beliau. Pada saat Pak Said terpilih kembali menjadi Ketua MPM PP Muhammadiyah untuk periode kedua, saya dipercaya sebagai Wakil Sekretaris. Intensitas pergaulan saya pun semakin intensif dengan almarhum. Dan dengan caranya sendiri, beliau acap kali hadir saat-saat kebutuhan membayar kontrakan atau SPP kian mendesak. Ia misalnya menghubungi jaringannya yang luas agar saya diikutkan dalam riset-riset atau kerja konsultan jasa lainnya.

Belakangan hari saya baru menyadari betapa peran-peran besar yang diberikan kepada penulis adalah bentuk kaderisasi yang almarhum lakukan. Lewat almarhum pula, MPM menjadi ruang aktualisasi bagi banyak aktivis muda, baik dari IPM, IMM, dan HMI. Anak-anak muda ini menjadi volunteer di sejumlah piloting program yang dirintis oleh MPM dengan isu-isu yang mereka gemari. Ada yang di sektor UMKM, miskin kota (becak), difabel, petani dan peternak.

Saya ingat betul almarhum seringkali meyakinkan kepada kami anak-anak muda agar percayalah, bahwa Tuhan akan membantu, yang pasti kita berusaha dengan sungguh-sungguh. Beliau lalu menyebut ayat di dalam surat Al-Ankabut ayat 69, yaitu: Walladzina Jahadu Fiinaa Lanahdiyan-Nahum Subulana, yang kira-kira artinya, “Dan bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk Kami, sesungguhnya Kami akan memberi petunjuk kepada mereka pada jalan Kami.”

Pesan itu acap kali disampaikan oleh almarhum saat-saat krisis pendanaan dan sementara kegiatan tetap harus berlanjut.

Pejuang Mustadha’afin
Suatu waktu di tahun 2009 kami mengunjungi Kokap, Kulon Progo. Hanya berbekal short message service (SMS) seorang warga di pedalaman nun jauh disana menanyakan pasal bagaimana agar bisa didampingi oleh MPM. Warga Kokap itu memperoleh bantuan kambing dari pemerintah. Sementara mereka tidak pandai menangani pemeliharaan kambing. Beberapa diantara kambing bantuan itu sakit dan meninggal. Oleh pak Said kami diajak serta dengan seorang dosen muda dari fakultas peternakan UGM, Ahmad Romadhoni (kini sedang S3 di Swiss).

Di lokasi kami berdialog di rumah penduduk yang berlantai tanah. Diskusi berkembang, tidak hanya soal kambing. Tapi beralih ke masalah gula kelapa yang menjadi penghasilan utama warga Kokap. Sejumlah persoalan berhasil kita gali. Lalu identifikasi masalah itu dibawa ke rapat MPM untuk kemudian diputuskan agar dilakukan pendampingan intensif kepada pengrajin gula kelapa ini. Kelompok ini kemudian berkembang. Dari sekedar pendampingan teknis-ekonomis, kemudian anggota kelompok mengembangkan pengajian-pengajian ke-Islaman. Dalam beberapa waktu, kelompok ini bertanya, bagaimana menjadi Muhammadiyah?

Ada banyak pengalan cerita tentang kepedulian pak Said dengan kelompok mustadha’afin ini. Apa yang saya gambarkan diatas, hanyalah ilustrasi dan penggalan kecil dari banyak sekali hal-hal yang sudah dilakukan oleh almarhum baik di HMI ketika ia masih muda, di LP3 UMY dan di MPM PP Muhammadiyah. Sampai kemudian almarhum merumuskan sebuah kredo yang dipasang di sekretariat MPM “Selama rakyat masih menderita tidak ada kata istirahat”.

Di penghujung tahun 2014 saya ke Yogja untuk mengurus administrasi wisuda yang sudah lama sekali terlunta-lunta. Beliau bilang gledikin saya “ah ini orang Selayar kok selalu di Yogya ini gimana sih”. Ia lalu mengajak saya makan siang di sebuah warung di sisi barat kota Yogyakarta. Kami berdiskusi tentang perkembangan kegiatan MPM. Termasuk kegiatan-kegiatan MPM di Papua Barat. Meski pun secara fisik saya tidak lagi di Yogyakarta, tetapi kami senantiasa berinteraksi di media whatsap. Termasuk memonitor saat beliau sakit di Papua. Tak diyana bahwa makan siang di desember 2014 itulah pertemuan terakhir saya dengan pak Said.

Selamat jalan pak Said. Selamat jalan pejuang kaum mustadha’afin.

Iklan