Dive Trip Sabang 2


Tiba di Kuala Namu kurang lebih pukul 10.45 (10/8/2016), sembari menunggu yang lain tiba saya mutar-mutar dulu, melihat interior bandara yang cantik lalu singgah ke outlet roti O untuk rehat sembari minum cappuccino. Sejurus kemudian ponsel berdering, si Wia menelpon.

“Hallo, ini Wia mas Mul” sapanya.

“Oh iya, Wia dimana” tanyaku.

“Ini baru saja landing di Kuala Namu, mas Mul dimana”? tanyanya.

“Di penjual roti O, kesini aja. Kita tunggu pak Jamil disini, ok” ajakku.

Kami menunggu kurang lebih 30 menit sebelum kemudian pesawat pak Jamil dan Riyadi landing. Di bandara, kedua kawan ini sempat minum juice sembari menunggu jemputan dari kolega pak Jamil di BKSDA Sumut. Setelah jemputan tiba, kami lalu beranjak keluar dari bandara sekalian mencari tempat makan siang. Kami makan siang di Ayam Penyet Cindelaras yang lokasinya tidak jauh dari Bandara Kuala Namu.

DSC00042
Tumpukan Barang Bawaan ke Sabang (foto: Moel)

Sembari makan, kami ngobrol ngalor ngidul. Tatkala acara makan usai, kami beranjak ke kota Medan, melihat-lihat kota dan menjemput om Dok di penginapannya. Dari hotel om Dok kami ke perwakilan bus, rupanya pak Jamil mengirim dive gearnya dari Padang ke Medan melalui jalur bus. Urusan dive gear beres, kami lalu ke toko – saya lupa namanya – membeli peralatan yang sekiranya dibutuhkan dalam trip kami. Dari toko, kami antar si Wia ke tempat tujuannya yang kebetulan akan pulang kampung.

Tiba di perwakilan bus “Harapan Indah” kurang lebih pukul 18.30, kami sholat magrib lanjut isya’ (jamak) dan makan malam dengan mie. Tepat pukul 21.00 Wib, bus beranjak menyusuri kota medan menuju kearah yang entah dimana, diringi gerimis bus terus melaju berkelok menanjak. Tiba-tiba terbangun, sayup-sayup dari toa masjid terdengar suara mengaji yang besahut-sahut dari satu masjid dengan masjid lainnya. Sejurus kemudian bus berhenti di sebuah masjid di Langsa, Aceh. Kami lalu sholat subuh. Lalu lanjut lagi tidur dan tanpa terasa sudah masuk di terminal Batoh, Banda Aceh.

***

DSC00048
Di Warung Ini Kami Sarapan (foto: Moel)

Perjalanan berikutnya adalah Banda Aceh (Pelabuhan Ulee Lheue) ke Iboih di Kota Sabang yang ditempuh melalui kapal cepat dengan waktu tempuh 45 menit. Namun kami sarapan sembari nyeruput kopi aceh di rumah makan “Aceh Tamiang”, di Banda Aceh. Sampai di pelabuhan Riyadi melakukan reservasi, kami berangkat dengan “Express Bahari” pukul 08.00 Wib. Dari pelabuhan Sabang kami dijemput oleh kolega pak Jamil menuju penginapan kami di Iboih yang ditempuh kurang lebih 40 menit. di Iboih kami nginap di Wisma Rubiah Tirta.

DSC00062
Land Mark Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue (foto: Moel)

Usai sholat jum’at diving kita mulai. Oh iya sobat, di Iboih ini tidak ada aktivitas wisata yang dilakukan pada hari jum’at kecuali setelah sholat jum’at. Kebiasaan ini sudah terinstitusionalisasi pada kehidupan wisata bahari di kawasan Iboih.

Kami lalu ke Rubiah Tirta Divers untuk rent pemberat dan tank, oleh Dive Master kami bang Amir kami ditunjukkan tempat ambil alat dan setting alat kami. Setelah ready, kami lalu go ke dive site yang tidak jauh dari pantai.

DSC00126
Setting Alat Sebelum Ke Lokasi (foto: Moel)

Dive pertama kami di West Seulako, karakteristik site ini adalah substratnya terdiri atas bebatuan mirip batu vulkanik. Kerennya, site ini banyak banyat ikan berseliweran. Pada saat breafing, DM kami sampaikan bahwa kita akan negatif entry mengingat site ini lokasinya tepat di sisi luar pulau Seulako, dimana arus dari laut lepas keluar masuk. Meluncurlah DM kami ke dasar, aku mengikuti modelnya, tapi problem karena equalize saya kurang sempurna, begitu di 9 meter kuping sakit. Saya putuskan naik ke yang lebih dangkal untuk mengurangi sakit dan equalize kembali. Alhamdulillah ok, saya tengok ke atas om Dok masih berusaha penyesuaian. Sementara pak Jamil dan Riyadi entah kemana.

DSC00610
Akhirnya kena Jepret Juga (foto: Riyadi)

Karena kami tidak bawah kamera, ya cukup lihat-lihat saja biota di tunjang oleh visibility yang jernih. Kebetulan di bawah lagi rame juga, tiba-tiba ada groups lain nyalip di sisi kiri kami. Om dok mau minta foto, begitu dilihat pakaiannya rupanya bukan group kami (pak Jamil dan Riyadi), he..hee… kecele kita. Asyiknya, giat travelly dan ekor kuning berseliweran di mana-mana. Oh iya, DM kami juga sempat memberi tahu ada black tip, meski pun saya tidak melihatnya. Setelah cukup, kami lalu safety stop dan bersiap exit ke permukaan.

DSC00155
Perjalanan Menuju Rubiah Sea Garden (foto: Moel)

Surface interval kami lakukan di bibir pantai Iboih yang manis. Di iringi secangkir kopi, obrolan di mulai mengenai pengalaman dive pertama kami. Masing-masing bicara, sampai kemudian oleh DM kami mengingatkan bahwa waktu surface interval sudah lewat dan kita bersiap dive kedua.

DSC00273
Go Dive (foto: Jamil)

Dive kedua kami entry di site East Seulako, karakternya mirip dengan sisi barat dengan topografi yang landai. Pada penyelaman kedua ini asyiknya sudah bisa foto-foto, he..he…..

DSC00625
Nudi (foto: Riyadi)

Usai diving, kami bersihkan alat di kolam yang disediakan oleh dive operator lalu menyimpan alat masing-masing di ruangan. Lalu kami bergegas ke penginapan untuk mandi dan bersantai sembari menunggu makan malam. Malam itu kami makan di warung yang berjejar sepanjang pesisir Iboih. Tinggal memilih pilihan, saya malam itu makan Mie Aceh. Usai makan, kami hanya ngobrol sejenak, lalu balik ke kamar untuk selanjutnya tidur.

***

DSC00099
Tempat Kami Sarapan dan Ngopi (foto: Moel)

Pagi itu usai mandi dan sarapan di pinggir pantai Iboih, kami bergegas ke penginapan ganti baju dan menuju ke Dive Center. Dari penginapan kami ke dive center kurang lebih 75 meter, mengambil dan setting alat dive. Hari ini kami rencana tiga kali dive.

Dive pertama ini kami lakukan di site Batee Tokong. Titik penyelaman ini ditandai dengan bebatuan yang menonjol dari dasar laut. Karakter arus melingkar membuat banyak ikan yang bermain. Di lokasi ini juga ada banyak Moray eel – belut laut – yang besarnya; subhanallah. Pada saat mau safety stop, tiba-tiba datang arus. Kami pun menepi.

Setelah diving, kami surface interval di pinggir pantai. Menikmati pisang goreng, kopi hitam dan juice yang dijual oleh masyarakat di pantai Iboih.

Dive kedua kami dilakukan di Arus Paleeh. Titik penyelaman ini cukup landai dan dicirikan oleh batu vulkanik tertutup batu vulkanik dan batu-batu besar. Sedari awal, Amir, DM kami memberi tahu bahwa ini berarus sehingga kami mesti hati-hati. Tapi site ini menurutku cukup istimewa, lebih karena arusnya dan pasti banyak ikan yang main.

Dive terakhir kami lakukan di Rubiah Sea Garden. Kami ajak kesana oleh DM kami, karena lokasi ini lebih dangkal, berpasir dengan formasi batuan dan hard coral. Pas mau exit, rupanya diatas sedang hujan lebat dan angin. Akhirnya kami selesaikan penyelaman kami dengan gembira. Sebenarnya, pak Jamil minta ke bang Amir kiranya ke Canyon point, tetapi bang Amir bilang tidak bisa diakses karena cuaca. Tapi saya pikir sudah cukuplah memberikan pengalaman berbeda bagi saya yang diving di Timur Indonesia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s