Sahabat

Kali ini aku ingin mencatatkan sebuah pengalaman bertemu kembali dengan sahabat lama. Bermula saat lembaga dimana saya bekerja – kpu – digugat oleh beberapa aktivis partai politik. Di pertengahan oktober yang panas tahun 2013, datanglah aku ke Jakarta. Kedatanganku tentu berbeda dari biasanya. Aku ke Jakarta seringkali karena urusan dengan lembaga donor; entah meeting atau workshop, dll. Intinya soal kerja dan seringkali karena pengen jalan-jalan. Kali ini ke ibu kota sebagai persakitan. Terlapor dalam perkara pelanggaran kode etik penyelenggara pemilu.

Aktivis partai mempersoalkan keputusan kpu. Dituding tidak indepenlah. Kroni sebuah pemerintahanlah. Dan banyak lagi tudingan yang memerih rasa. Jauh sebelum mendaftar di lembaga penyelenggara pemilu itu, sudah terbayang soal-soal ini. Jadi aku tidak terlalu kaget. Dan kujalani biasa-biasa saja. Yang pasti, aku bekerja diatas rule of law. Dan apa yang di putuskan KPU dalam kaca mata kami sudah prosedural. Semua proses sudah dijalani. Bahwa harus ada yang tidak senang, itu soal lain.

Continue reading “Sahabat”

Kemanusiaan: Inspirasi dari Orang-orang Kecil

Ia begitu polos bercerita malam itu. Dari raut mukanya terbersit ketulusan. Dari bicaranya keluar istilah-istilah yang mencerminkan eskpresi autentik. Tidak menipu. “Saya nabung tiga tahun untuk membeli 2 ekor kambing kurban” jelas mak Yati, perempuan asal Jember, Jawa Timur itu disebuah stasiun TV Swasta.

Continue reading “Kemanusiaan: Inspirasi dari Orang-orang Kecil”

Nervous dihari pertama

Sehari setelah di lantik oleh KPU Provinsi kami diperintahkan untuk segera bertugas. Tidak ada pembekalan. “Kalian harus segera masuk karena tahapan sedang berjalan. Ada dua hal penting yang perlu segera ditindak lanjuti; pertama DCS & DPS. Kedua, segera konsolidasi internal” begitu pengarahan Ketua KPU Sulsel, M. Iqbal Latif.

Ada semacam nervous pertama kali menginjakkan kaki di kantor penyelenggara pemilu itu. Tidak tau, tiba-tiba saja hadir. Tanpa izin sama sekali. Entah apa pasal. Padahal saya sudah cukup lama keluar masuk kantor. Baik swasta atau pun milik pemerintah.

Continue reading “Nervous dihari pertama”

Rindu Jogja

Sudah kurang lebih tiga bulan ini saya meninggalkan Jogja. Decak kerinduan membuncah. Kerinduan terhadap kota dengan semesta suasananya. Rindu dengan angkringan, titik nol, taman budaya, kampus (ugm), semesta kopi, dan tentu 302 (jalan kh ahmad dahlan). Sejak kuliah, saya memang jarang pulang ke kampung, lebaran sekali pun. Betah saja dengan suasana Jogja. Sampai saat ini. Dan tiba-tiba rindu itu datang mengusikku.

Continue reading “Rindu Jogja”

Suaramu Harga Dirimu

Di sebuah warung kopi duduklah seorang anggota dewan dari sebuah partai. Ia nongkrong dengan teman-temannya. Saat akan balik ia bilang ke teman satu mejanya, coba di hitung berapa, nanti saya yang selesaikan. Teman satu mejanya lalu menghitung dan menyampaikan jumlah yang hadir. Ok, saya sudah bayar. Tiba-tiba dari meja lain disebuah sudut di warkop menyampaikan bahwa kami juga adalah pendukungmu di Pileg. Sang wakil rakyat bilang, anda kan saya sudah bayar waktu memilih. Sementara yang meja ini mereka memilih saya tanpa harus dibayar.

Penggalan cerita diatas menggambarkan bagaimana relasi antara rakyat dan wakilnya. Yaitu kecenderungan politik transaksional pada event kepemiluan. Bukan hanya pada event Pileg, juga pada berbagai event Pilkada praktek ini seringkali juga terjadi.

Continue reading “Suaramu Harga Dirimu”

Hakim korup; Kemana lagi kita berharap..?

Sambil duduk di ruang tengah. Saya nyalakan TV pagi itu. Rencananya mau mandi. Sejenak kemudian saya perhatikan ada talkshow menarik. Yang bicara adalah Hamdi Muluk, ahli psikologi politik dan Refly Harun, pengamat hukum Tata Negara. Apa pasal yang dibincang? Rupanya semalam ada peristiwa genting di Jakarta. Salah satu hakim dan juga Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ditangkap tangan oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Penangkapan itu sendiri terkait dengan kasus suap Pilkada yang ditangani oleh MK.

Continue reading “Hakim korup; Kemana lagi kita berharap..?”

USA Shutdown; so what ..?

Hawa dingin (karena embun) masih terasa. Pagi itu seperti biasa, saya duduk di depan TV menyimak berita. Ketika chanel TV saya pindahkan ke Voice of America, seorang pembaca berita melaporkan bahwa layanan pemerintah di Amerika untuk sementara di hentikan. Khususnya fasilitas-fasilitas publik yang dikelola oleh pemerintah. Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Apa Amerika benar-benar bangkrut, sehingga tidak mampu lagi membiayai pelayanan pemerintahan?

Continue reading “USA Shutdown; so what ..?”

1 Oktober; Hari Kemanusiaan Nasional

Barangkali 1 Oktober layak diperingati sebagai hari kemanusiaan nasional. Dan kita semua bangsa Indonesia patut berkabung untuk itu. Bukan hanya perwira TNI AD yang tewas dalam peristiwa pilu di 1 Oktober 1965, dini hari itu. Tetapi juga jutaan orang yang meninggal dan dibantai sebelum (terutama kelompok Islam) dan pasca peristiwa itu. Dengan dalih “PKI”. Dan peristiwa itu telah membalik seluruh historitas Negeri ini. Boleh dikata itulah titik balik dari seluruh apa yang kita saksikan hari ini. Jakarta yang Macet. Liberalisasi sektor ekonomi dan perdagangan. Termasuk penguasaan terhadap konsesi pertambangan di Indonesia. Pangaturan daerah. Dan lain sebagainya. Dilain waktu saya ingin membuat catatan kecil, soal ekonomi ini kaitannya dengan peristiwa 65 ini.

Terlepas spekulasi mengenai apakah ada peran CIA dalam tragedi itu, yang pasti bahwa pembunuhan itu tidak bisa diterima. Baik pembunuhan kepada para perwira militer dan juga kepada mereka yang dicap PKI – oleh rezim – yang jumlahnya jutaan itu. Padahal menurut John Roosa, peristiwa itu adalah tragedi kemanusiaan terbesar kedua setelah Holocaus dalam rentang skala, waktu, dan jumlah korban yang ditimbulkannya (indoprogress, 2013).

Continue reading “1 Oktober; Hari Kemanusiaan Nasional”