Catatan Palembang (2)

Usai makan, kami bergegas ke arah kota Palembang. Menyusuri jalan utama. Mataku menengok kiri kanan. Memperhatikan kota dengan penghuni wong kito galo ini. Ya mengamati dari sisi yang paling dekat tentang kota ini. Untung saja aku tidak bersama dengan Ayah. Ia acapkali men-judge-ku kampungan. “Nengok kiri-kanan (lihat bangunan) di kota itu kampungan” ucapnya suatu waktu saat menemaniku naik becak di kota kecil, Kabupaten kami. Padahal ia juga tinggal di kampung. He..he…

Mungkin ada sejam lalu melewati Jembatan Ampere yang legendaris itu. Kemudian di flay over mobil jalan ke kiri menuju STIKES Muhammadiyah, Palembang. Oleh panitia aku diinapkan di rusunawa kampus itu. Sampai di rusunawa sudah ada mas Zaky (Dr. Zakiyuddin Baidhawi) dan Romo Paryanto. Mas Zaky adalah staff pengajar di IAIN Salatiga. Penulis sejumlah buku-buku bertema Islam dan Sosial. Alumni IMM UMS. Sementara Romo Par (begitu kami acapkali memanggilnya) adalah senior kami. Ia dulu memang kuliah dan mengajar di Sanatadarma, Jogja. Aktif di Ornop. Aslinya memang Sumsel. Tepatnya di Prabumulih. Kehadirannya di Palembang karena sedang ada program CSR di kampungnya. Sembari menjadi narasumber sekalian.

Continue reading “Catatan Palembang (2)”

Catatan Palembang (1)

Selamat datang di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Palembang. Pasang sabut pengaman anda sampai pesawat ini benar-benar dinyatakan berhenti oleh otoritas Bandara” demikian pemberitahuan awak cabin Sriwijaya Air yang aku tumpangi.

Perjelanan ini lebih sebagai narasumber untuk suatu pelatihan. Bukan sama sekali dimaksudkan untuk wisata. Meskipun acap kali, usai memberikan fasilitasi, aku berkunjung ke destinasi disuatu kota. Jadi begini, di bulan Januari aku ketemu Zulfikar. Anak peternakan UGM dan aktivis disebuah gerakan; Ikatan Pelajar Muhammadiyah.

Continue reading “Catatan Palembang (1)”

Dive di Ngapaloka, Selayar

Pagi itu cerah sekali. Mobil yang kami tumpangi meraung-raung. Menanjak sisi-sisi bukit Desa Patilereng yang terjal. Dengan lebar jalan yang hanya cocok untuk satu kendaraan roda empat. Jalan masih basah. Sementara dari arah timur, sang surya merangkak naik. Memancarkan cahaya. Memberi kehidupan bagi semesta alam.

Continue reading “Dive di Ngapaloka, Selayar”

Lombok: Dari Ayam Taliwang hingga Sate Bulayak

Pesawat yang aku tumpangi akhirnya landing di Lombok International Air Port. Udara cerah. Terik matahari menyengat diluar cabin. Kuambil tas pakaian dan kamera yang aku simpan di bagasi saat naik dari Surabaya. Perlahan penumpang bergerak turun melalui pintu utama pesawat menuju ruang kedatangan.

Continue reading “Lombok: Dari Ayam Taliwang hingga Sate Bulayak”