Salah satu yang menjadi obsesiku (tentu atas dasar kajian need assessment) dalam konteks pertanian ialah pentingnya kehadiran organizer dalam membangun jama’ah/organisasi tani. Tidak hanya dalam konteks pertanian, tapi pendekatan community organizer (CO) ini juga relevan dalam banyak konteks tentunya. Apakah pendidikan, hukum, dan lainnya.

Ketika masih di PP IPM, saya ingin mencoba menggunakan pendekatan CO ini dalam konteks pendampingan pelajar. Sayang cita-cita itu belum kesampaian keburu habis masa khidmatku. Maka saat ditunjuk sebagai Wakil Sekretaris Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, saya pikir inilah waktunya, apalagi MPM memiliki mandat dari Muktamar se-abad tahun 2010 lalu sebagai focal point untuk pemberdayaan masyarakat yang dimensinya tentu sangat luas (petani, nelayan, perempuan dan miskin kota) dan tak mungkin bisa dilakukan secara keseluruhan.

Dalam rapat kerja MPM saya mengusulkan masuknya peningkatan kapasitas pelaku pemberdayaan sebagai bagian dari program MPM. Salah satu kegiatan peningkatan kapasitas ialah pelatihan community organizer.

Kenapa harus pelatihan CO? Saya fikir kerja MPM sangat teknis dan itu menguras energi yang besar yang belum tentu efektif. Ok, kerja-kerja teknis memang menyelesaikan persoalan petani. Misalnya bisa mengurangi cost produksi, dan berbagai hal teknis lainnya. Tapi bagaimana dengan persoalan struktural? Bagaimana dengan organisasi tani? Di titik ini MPM alfa, karena pikiran itulah maka penting menjadikan advokasi sebagai metodologi dan CO sebagai cara untuk membangun kesadaran kritis dan memperkuat organisasi masyarakat.

Alhamdulillah atas izin Allah Swt kegiatan ini bisa kami selenggarakan tanggal 05 sampai 08 Maret 2011 di Balai Diklat Industri Yogyakarta. Kegiatan ini diselenggarakan bekerjasama dengan Pusat Studi Hak Asasi Manusia (Pusham) Universitas Islam Indonesia. Kerjasama tersebut terselenggara berkat dorongan mas Eko Prasetyo, anggota MPM yang juga direktur program di Pusham UII.

Pelatihan tersebut diikuti oleh 29 orang peserta dari berbagai lembaga. Sasarannya memang difokuskan bagi aktivis muda yang memiliki concern dengan isu-isu kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat.

Pelatihan berlangsung dengan hangat dan tentu cair. Narasumber yang diundang untuk menjadi pemrasaran berasal dari berbagai lembaga. Ada yang dari kampus seperti Prof Eddy, kang Hasrul Halili (FH & Pukat UGM), Prof Mohammad Maksum (UGM & Ketua PB NU), Husein (aktivis gerakan tani di Sukolali), dan Winarso (eks PRD awal dan aktivis LBH YAPHI Solo).

Sebagai langkah awal, pelatihan ini cukup memberikan pembelajaran yang berarti dalam menyelenggarakan kegiatan berikutnya yang rencananya digarap di Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera. Catatan-catatan tersebut misalnya; pertama, waktu rekruitmen yang kasif agak menyulitkan penyelenggara untuk melakukan seleksi peserta secara baik. Walau pun demikian, target yang ditetapkan bisa tercapai.

Kedua, dari sisi materi materi yang bersifat wawasan terlalu banyak karena itu perlu dikurangi sekaligus akan memberikan ruang yang lebih besar bagi pendalaman materi.

Ketiga, kegiatan out door mestinya kegiatan ini dilakukan lebih lama, ya paling tidak 2 sampai 3 hari. Sayangnya karena faktor anggaran kegiatan ini tidak bisa diselenggarakan lebih lama. Padahal ini sangat penting dalam membekali pengalaman peserta.

Keempat, sebagai PO saya menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada seluruh pihak yang telah memberikan kontribusinya atas terselenggarakannya kegiatan ini. Mohon maaf atas segala kekurangannya. Nun Walqalami Wamaa Yasthuruun.

Dengan hormat

Masmulyadi

Baca artikel berikut:

1. Belajar Manajemen Pangan dari Semut

2. Membangun Kesadaran Organis

3) Harga Cabe Meroket; Nasib Petani Belum Tentu Baik

Iklan