Subsistensi dan Keberlanjutan Sumberdaya Laut di Pulau Gusung

Daeng (Dg) Kulle (47) baru saja selesai makan, siang itu. Ia bersiap melaut. Sebotol air digengam, sebungkus rokok dan tidak lupa korek. Ia akan mencari ikan di sekitar Pulau Gusung tempatnya bermukim. Alatnya sederhana saja, sebilah panah dan kaca mata (molo) ala bajo yang dibuat dari kayu. Kaca mata ini hanya menutupi kedua biji mata. Sementara hidung tidak dicover oleh jenis kaca mata ini.

Pulau ini secara geografis terpisah dari Pulau Selayar. Dari Benteng (Ibu Kota Kabupaten), kita bisa tempuh antara 10-15 menit naik perahu katinting. Atau dalam bahasa Selayar disebut dengan lepa-lepa. Pulau ini sepintas seperti bersambung dengan Pulau Pasi’ di selatannya, tetapi terpisah. Dibatasi oleh selat yang jaraknya sepelemparan batu. Apabila air surut, selat ini tidak bisa dilalui oleh perahu nelayan. Tetapi jika pasang, perahu nelayan bisa melintasi selat itu menuju timur pulau yang merupakan ekosistem mangrove. Orang Gusung sering menyebutnya dengan tarrusan (bersambung atau terus).

Continue reading “Subsistensi dan Keberlanjutan Sumberdaya Laut di Pulau Gusung”

Dive di Ngapaloka, Selayar

Pagi itu cerah sekali. Mobil yang kami tumpangi meraung-raung. Menanjak sisi-sisi bukit Desa Patilereng yang terjal. Dengan lebar jalan yang hanya cocok untuk satu kendaraan roda empat. Jalan masih basah. Sementara dari arah timur, sang surya merangkak naik. Memancarkan cahaya. Memberi kehidupan bagi semesta alam.

Continue reading “Dive di Ngapaloka, Selayar”

Tawangmangu: Vegetasi dan lendscape alam yang memikat

Tanggal 24-26 Juli 2012 saya ke Tawangmangu untuk memfasilitasi sebuah training. Ke wilayah tersebut ditempuh kurang lebih 3 jam perjalanan dari Jogja. Tawangmangu adalah salah satu Kecamatan dalam wilayah Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Wilayah tersebut berada di lereng Gunung Lawu. Sehingga suasananya cukup dingin.

Continue reading “Tawangmangu: Vegetasi dan lendscape alam yang memikat”

Catatan Perjalanan Ke Lamongan

Perjalanan ini saya lakukan tahun 2009 yang lalu. Karena tidak sempat terekam dalam blog. Tapi tetap terekam dalam foto. Kali ini saya tidak akan cerita melalui note ini, tapi biarkan foto-foto berikut ini yang bertutur. Saya ke Lamongan dalam konteks riset “Identifikasi Potensi Industri Kecil Menengah (IKM) berbasis pangan lokal” Dirjen IKM, Kementrian Perindustrian.

Continue reading “Catatan Perjalanan Ke Lamongan”

Pemberdayaan Petani: Menegaskan Definisi, Menata Kelembagaan

Sebuah spanduk lebar berlatar seorang petani sedang menuang beras terpampang gagah di tengah sawah. Dari jauh, spanduk itu nampak jelas bertuliskan “panen padi sawah”. Di depan spanduk itu, berdiri sebuah tenda lengkap dengan panggung tempat para pejabat berceloteh. Dari jarak yang agak dekat, sekerumunan orang sedang duduk menunggu seorang pejabat yang akan memanen padi siang itu. Mereka sepertinya nampak cemas, beberapa panitia dengan ID card dan rompi hilir mudik. Seperti sedang sibuk. Di sudut lain, nampak orang bercakap-cakap. Entah apa yang mereka diskusikan. Aku tak paham.

Tidak lama kemudian aku mendengar suara sirena meraung-raung. Sepertinya suara mobil polisi yang biasa aku dengar di kota. Ya benar. Sebuah mobil patwal bergerak perlahan menuju ke lokasi spanduk besar tadi.

Continue reading “Pemberdayaan Petani: Menegaskan Definisi, Menata Kelembagaan”

Kenapa Harus CO?

Salah satu yang menjadi obsesiku (tentu atas dasar kajian need assessment) dalam konteks pertanian ialah pentingnya kehadiran organizer dalam membangun jama’ah/organisasi tani. Tidak hanya dalam konteks pertanian, tapi pendekatan community organizer (CO) ini juga relevan dalam banyak konteks tentunya. Apakah pendidikan, hukum, dan lainnya.

Continue reading “Kenapa Harus CO?”

Pangan Dipulau-Pulau Terluar

Berdasarkan Peraturan Presiden No. 78 Tahun 2005 yang ditanda tangani oleh Presiden, terdapat 92 pulau terluar yang membentang dari Sabang sampai Maraoke dan dari Miangas sampai Route.

Pulau-pulau tersebut memiliki dinamika sosial, ekonomi, budaya, dan politiknya sendiri.  Secara ekonomi, mereka umumnya hidup dari bekerja sebagai nelayan, ternak atau berkebun. Secara kuantitias, penduduk pulau-pulau kecil itu memang tidak banyak. Data departemen kelautan dan perikanan menyebutkan bahwa rata-rata pulau kecil terluar jumlah penduduknya antara 400 – 600 jiwa.

Kalau ditelusuri, sebenarnya mereka tidak memiliki masalah yang serius dengan pangan. Dibeberapa tempat, seperti di Selayar, Sulawesi Selatan masyarakat di wilayah laut flores itu terbiasa dengan pangan lokal, ketala pohon atau dari umbi-umbian seperti gadung. Mereka memiliki kearifan sendiri.

Continue reading “Pangan Dipulau-Pulau Terluar”