Subsistensi dan Keberlanjutan Sumberdaya Laut di Pulau Gusung

Daeng (Dg) Kulle (47) baru saja selesai makan, siang itu. Ia bersiap melaut. Sebotol air digengam, sebungkus rokok dan tidak lupa korek. Ia akan mencari ikan di sekitar Pulau Gusung tempatnya bermukim. Alatnya sederhana saja, sebilah panah dan kaca mata (molo) ala bajo yang dibuat dari kayu. Kaca mata ini hanya menutupi kedua biji mata. Sementara hidung tidak dicover oleh jenis kaca mata ini.

Pulau ini secara geografis terpisah dari Pulau Selayar. Dari Benteng (Ibu Kota Kabupaten), kita bisa tempuh antara 10-15 menit naik perahu katinting. Atau dalam bahasa Selayar disebut dengan lepa-lepa. Pulau ini sepintas seperti bersambung dengan Pulau Pasi’ di selatannya, tetapi terpisah. Dibatasi oleh selat yang jaraknya sepelemparan batu. Apabila air surut, selat ini tidak bisa dilalui oleh perahu nelayan. Tetapi jika pasang, perahu nelayan bisa melintasi selat itu menuju timur pulau yang merupakan ekosistem mangrove. Orang Gusung sering menyebutnya dengan tarrusan (bersambung atau terus).

Continue reading “Subsistensi dan Keberlanjutan Sumberdaya Laut di Pulau Gusung”

Korupsi Masuk Desa

Dalam satu penggalan cerita di novel “Lumpur”, Yazid R. Passandre, penulis buku itu menggambarkan satu sisi dari korupsi yang acap kali terjadi di desa. Lewat ceritanya, Passandre melukiskan bagaimana Suro, Kepala Desa Renokenongo melakukan permufakatan jahat dengan hulu balang perusahaan dalam negosiasi tanah milik warga Desa.

Bahkan di scane cerita itu, Suro – si Kepala Desa – menunda penyaluran beasiswa yang menjadi hak korban. Hingga kemudian, Tanur, anak dari Daya, janda yang rumah dan tanahnya menjadi korban lumpur mengikuti lomba layang-layang dan menuliskan “anti korupsi” dalam layangan yang dimainkan oleh anak-anak itu. Suro kemudian murka dan memenjarakan Tanur melalui suatu fitnah.

Continue reading “Korupsi Masuk Desa”

Sejumput Cerita Dari MIWF 2016

Pada suatu pagi (mungkin sekitar April awal), saya membuka path. Salah satu teman satu lorong saya adalah kak Ami. Ia mengunggah kabar tentang penyelenggaraan Makassar International Write Festival (MIWF) tahun 2016 yang diselenggarakan di Fort Rotterdam pertengahan Mei.

Continue reading “Sejumput Cerita Dari MIWF 2016”

Radikal Boleh Asal Jangan Main Mercon

Belum lama ini publik di kejutkan dengan aksi penggebrakan kelompok Nurul Haq di kawasan Ciputat oleh tim anti terror, Densus 88. Menurut penjelasan Polisi, kelompok ini merupakan jaringan Abu Roban dari tandzim jihad Indonesia bagian Barat. Yang selama ini di tengarai melakukan penembakan terhadap polisi di beberapa tempat di Jakarta.

Yang lebih menegankan tentu adalah tatkala penyergapan ini dilakukan di malam tanggal 31/12/2013. Dari penyergapan ini di temukan sejumlah dokumen yang menjadi target-target penyerangan. Ah alangkah ngerinya.

Continue reading “Radikal Boleh Asal Jangan Main Mercon”

Selamat Tinggal Mata, Welcome Salah

Club – CHELSEA FC – telah resmi mengumumkan transfer Juan Mata ke The Red Davils. Ia tinggal menunggu tes medis saja untuk memastikan mantan gelandang Valencia itu bisa tanda tangan kontrak. Harga transfer Juan cukup fantastis, £37 juta. Dan saya kira itu harga yang pantas untuk kualitas seorang Juan.

Continue reading “Selamat Tinggal Mata, Welcome Salah”

Budiman Sudjatmiko, Si Aktivis Rapi yang Memilih Perjuangan Politik

“Keterlibatan saya sebagai seorang aktivis merupakan konsekuensi logis dari pencarian akan makna kehidupan pribadi dan sosial saya sebagai seorang anak muda”. – Budiman Sudjatmiko

Seorang anak muda berkacamata menyampaikan orasi di tengah-tengah massa yang mendukung Megawati Soekarno Putri sebagai Ketua Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Suaranya menggelegar membakar emosi massa. Rambutnya di potong rapi. Di badannya menempel kameja berwarna putih lengang pendek – persis seperti anak kuliahan semester satu – dengan ujung bawah baju didalam celana. Kontras dengan kebanyakan massa aksi. “Buktikan organisasi kami komunis,” sergahnya suatu ketika di bulan Juli 1996. Siapa lagi kalau bukan Budiman Sudjatmiko. Namanya semakin melambung setelah peristiwa berdarah, 27 Juli 1996 di Jl Diponegoro, Jakarta Pusat. Peristiwa getir yang memilukan. Sekaligus menjadi salah satu pemantik lagu perlawanan rakyat.

Continue reading “Budiman Sudjatmiko, Si Aktivis Rapi yang Memilih Perjuangan Politik”

Kemanusiaan: Inspirasi dari Orang-orang Kecil

Ia begitu polos bercerita malam itu. Dari raut mukanya terbersit ketulusan. Dari bicaranya keluar istilah-istilah yang mencerminkan eskpresi autentik. Tidak menipu. “Saya nabung tiga tahun untuk membeli 2 ekor kambing kurban” jelas mak Yati, perempuan asal Jember, Jawa Timur itu disebuah stasiun TV Swasta.

Continue reading “Kemanusiaan: Inspirasi dari Orang-orang Kecil”

Suaramu Harga Dirimu

Di sebuah warung kopi duduklah seorang anggota dewan dari sebuah partai. Ia nongkrong dengan teman-temannya. Saat akan balik ia bilang ke teman satu mejanya, coba di hitung berapa, nanti saya yang selesaikan. Teman satu mejanya lalu menghitung dan menyampaikan jumlah yang hadir. Ok, saya sudah bayar. Tiba-tiba dari meja lain disebuah sudut di warkop menyampaikan bahwa kami juga adalah pendukungmu di Pileg. Sang wakil rakyat bilang, anda kan saya sudah bayar waktu memilih. Sementara yang meja ini mereka memilih saya tanpa harus dibayar.

Penggalan cerita diatas menggambarkan bagaimana relasi antara rakyat dan wakilnya. Yaitu kecenderungan politik transaksional pada event kepemiluan. Bukan hanya pada event Pileg, juga pada berbagai event Pilkada praktek ini seringkali juga terjadi.

Continue reading “Suaramu Harga Dirimu”